Unik! Bara Digigit, Api di Injak Tapi Kebal

0 Komentar

ANTIPANAS. Para penari sere api meliuk dan bermain di atas kobaran api. Tarian ini digelar pascapanen raya padi di Desa Gattareng, Barru. (rusman/fajar.co.id)

Api berkobar membakar kayu. Mereka menginjaknya, namun tak ada yang terbakar.

Laporan: RUSMAN NASAR

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tari sere api adalah warisan leluhur dari pegunungan Gattatareng, Kecamatan Pujananting, Barru. Kini masih bertahan di tengah gempuran teknologi modern.

Para penarinya bermain di antara tumpukan bara api. Tarian ini dipentaskan setiap tahun sebagai ungkapan rasa syukur pascapanen. Digelar secara bergilir dari ke rumah warga. Setiap tahun.

Biasa juga dipentaskan di acara-acara resmi di Barru. Kepala Desa Gattareng Andi Syahrir, mengurai, tarian ini asli dari Desa Gattareng. Penarinya dari generasi ke generasi merupakan satu keturunan. Meski gerakannya biasa saja, tarian penuh risiko.

Seluruh gerakan dari awal hingga akhir bermain di atas kobaran api. Sere api tak sekadar mengitari api, bahkan mereka menggenggam lalu meggigit bara api.

“Sudah jadi agenda tahunan di Desa Gattareng, warga menggelar pertunjukan tarian sere api ini,” papar Syahrir.

Baco, salah satu personel tari sere api, mengaku, keahlian tari ini karena sebelumnya orang tuanya juga bagian dari kelompok penari sere api ini. Penari biasanya terdiri dari pria dan wanita. Jumlahnya 10 hingga 12 orang.

Ada wanita yang menumbuk lesung. Suara lesung ini adalah bagian dari tari itu sendiri. Pria paruh baya satu per satu masuk arena dengan gerakan tangan meliuk-liuk sambil mengelilingi api yang sudah menyala di atas tumpukan kayu.

Para penari yang mengenakan pakaian adat, makin lama makin gencar meliuk. Gerakan mereka ritmik mengikuti tabuhan lesung kru penari sere api. Makin lama tabuhan lesung makin kencang. Suaranya bertalu-talu dengan irama seperti tabuhan gendang.

Penari tak pernah berhenti begerak, berputar di antara tumpukan api dan area lesung. Para pria penari ini kebal terhadap api. Selain diinjak, dipegang dan bahkan bara api itu digigit.

Puncak pertunjukan saat api mulai membumbung tinggi hingga berakhir padam. Para penari seperti mengalami trans, bergerak menyentuh api tanpa rasa sakit.

Wahyudin Suyuti, Sekretaris Dinas Pariwisata Barru, menyebutkan, tari sere api ini menjadi bagian daya tarik wisata di Barru. Apalagi jika tarian itu dikolaborasi event seni lainnya di lokasi wisata.

Menurutnya, apapun kegiatan seni budaya lokal jika dikemas dengan baik akan memberi dampak bagi dunia wisata. Tari sere api ini adalah budaya asli Barru. (*/abg-zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...