Luisa Nadya Penderita Down Syndrome yang Merintis Bisnis Kuliner

Dia terlahir down syndrome. Namun, itu tak membuatnya menyerah dan berpangku tangan. Ketekunannya belajar bisa melahirkan bisnis cake dan puding. Ingin mandiri. Tak bergantung saudara.

Wahyu Zanuar Bustomi, Surabaya

WAJAHNYA terlihat berseri-seri siang itu. Meski begitu, dia bisa dibilang agak pemalu. Saat tersenyum, sebagian wajahnya ditutupi kedua telapak tangannya. Bicara pun hanya 1–2 kata. Namun, hal tersebut tidak berarti dia minder.

Luisa, sapaan akrabnya, memang berbeda. Dia terlahir dengan down syndrome. Namun, keuletan dan semangat hidupnya bisa jadi di atas mereka yang ditakdirkan Tuhan dalam kondisi normal. Sejak SD, dia aktif di berbagai kegiatan. Di antaranya, bermain piano hingga berlatih balet. Bahkan, sampai sekarang dia kerap tampil di panggung untuk menari balet.

Kecintaannya pada dunia seni memang terus dipupuk. Termasuk setelah lulus SMPN 29. Ketika itu, Luisa dianjurkan ibunya melanjutkan ke sekolah kejuruan. Tujuannya, Luisa punya skill agar bisa hidup mandiri. Tak menggantungkan hidup pada orang lain. Pilihannya pun jatuh pada dunia kuliner.

Hingga akhirnya, dia memilih belajar di SMKN 8 Surabaya meski jauh dari rumahnya.

Sejak itu, kecintaannya pada dunia memasak pun tumbuh. Khususnya di bidang cake dan patisserie. Aroma vanila bercampur cokelat membuat Luisa semakin penasaran. Rasa keingintahuannya cukup tinggi. Termasuk bagaimana menemukan resep cake atau puding yang enak. Bahkan, kini dia sudah merintis bisnis kuliner tersebut.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah Umar


Comment

Loading...