Sulap Tempat Sampah Jadi “Rumah Kecil” Nan Sejuk

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Kota Makassar ini terlalu padat dengan rumah dan bangunan-bangunannya. Jarang menemui sawah dengan padi menghijau dan taman di dekatnya. Tetapi, Rumah Kecil di Antang menawarkan pemandangan itu.

Mendapatinya cukup mudah. Hanya membuka google maps kemudian mengetik kata kunci “Rumah Kecil Antang”, maps akan mengarahkan ke Lorong 100, Panara, Kec. Manggala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Buka pada pukul 13.00 WITA sampai 23.00 WITA.

Dengan mengikuti maps, kita akan terarah ke Jalan Poros Antang. Tak jauh dari masjid Nurul Iman Pannara, kita akan masuk lorong sempit. Jaraknya 100 meter — sudah ada penanda khusus “Rumah Kecil, 100 meter.” Hanya cocok dengan roda dua, aksesnya tak muat untuk kendaraan roda empat. Sempit. Menuju ke lokasi dari parkir motor pun harus berjalan kaki. Tetapi, tak jauh hanya 20 meter.

Warga sekitar sudah cukup familiar dengan lokasi tersebut. Tak usah ragu untuk bertanya. Warga akan menunjukan sebuah gang. Di situlah, rumah kecil berada. Waktu pukul 12.00 Wita, Minggu, 17 November, saya sepertinya terlalu cepat berkunjung. “Belum buka.” begitu sapa seorang perempuan yang juga pemilik dari balik pagar. “Masih bersih-bersih. Nanti jam satu buka,” lanjutnya.

Sambil mengenalkan diri, dia menyilakan masuk. Seorang lelaki menyapa lagi. Namanya Adi, begitu dia mengenalkan diri. Dia pemilik Rumah Kecil itu. Begitu masuk, hawa sejuk terasa dengan pohon-pohon yang teduh. Suara angsa dan burung berkicau berhasutan.

Sebelah kiri saya, ada dua kolam. Satu kolam khusus diisi dengan ikan terapi. Kolam lain ditumbuhi bunga teratai yang mekar. Di sebelah kanan, rumah panggung terbuat dari bambu dan atap nipa. Itu difungsikan sebagai Musala. Meja-meja dan kursi tertata. Semua di bawah pohon. Yah, memang tempat ini selain bersantai disediakan juga menu bila pengunjung lapar atau haus. Harganya ramah dengan kantong anda.

Saya diajak duduk di gasebo. Padi berbulir nan hijau itu menjadi pemandangan langka di tengah kota disuguhkan di sini. Ditambah angin yang bersilir-silir, panasnya kota pun tak terasa. Adi mengingat, belasan tahun lalu, lokasi ini ditempati warga untuk membuang sampah. Bau busuk, sampah plastik, dan sampah-sampah lainnya berserakan di mana-mana. Tak ada yang meliriknya.

Baru kemudian tahun 2008, dia membersihkan sampah-sampah. Setahun lamanya berjuang membebaskan lokasi itu dari sampah. Paling banyak sampah plastik.

Dia menanam. Kadang juga warga menyentil, Adi mau buat apa di situ. Selentingan itu biasa baginya. Tak dihiraukan. Dia berbuat.

“Di sini tempat pembuangan sampah. Tempat jorok, bau, tidak ada tumbuhan di dalamnya. 12 tahun lalu saya menanam duhulu. Saya menanam dan merawatnya tanaman dari kecil. Saya melibatkan proses alam di sini,” ujarnya.

Tak cukup dengan menaman. Lokasi 500 meter persegi itu ditata. Diangkutkan timbunan. 30 truk timbunan untuk lokasinya menjadi rata. Bukan perjuangan mudah, sebab mobil truk tak bisa ke lokasinya hanya sampai di jalan poros. Kerja keras tentunya mengangkut tanah ke lokasinya. Itu dengan gerobak. “Bisa dibayangkan dari luar saya angkut ke dalam bahan bakunya. Pakai gerobak,” cerita lelaki yang punya nama lengkap, Haswadi Haruna ini.

Sebenarnya lokasi ini kata, Haswadi, tak pernah didesain untuk umum. Hanya membayangkan tempat yang nyaman bagi keluarga, teman, dan kerabatnya bila berkunjung. Akan tetapi, permintaan warga dan kerabat, dia pun bersedia membuka umum. Jadwal bukanya hanya Selasa hingga Minggu dan Senin tutup. Dibuka untuk umum sejak tahun 2016.

Tahun 2020 akan dibatasi hari kunjungan. Hanya buka Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Hari selain itu, tutup. Adi mengaku, ingin berbagi waktu dengan keluarga. Selain itu, dia ingin banyak berkarya. “Tiga hari itu bisa berkumpul sama keluaga dan bisa produktif berkarya,” tutur lelaki yang juga aktif di Sanggar Teater Merah Putih ini. (ilham wasi)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...