Lakukan Kejahatan Seksual ke 14 Siswinya, Arist Merdeka Sirait Kecewa Vonis Kepsek SD di PN Watansoppeng

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait, kecewa. Pasalnya, vonis lima tahun penjara yang diputuskan Pengadilan Negeri Watansoppeng, Sulawesi Selatan, terhadap oknum seorang Kepala SDN Soppeng inisial HMD (52).

Menurut Arist, oknum kepala sekolah itu telah terbukti melakukan kejahatan seksual terhadap 14 siswinya dinilai dan itu merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime).

Selain melecehkan harkat dan martabat para korban, bebernya, putusan majelis hakim atas perkara kejahatan seksual tersebut merupakan gagal paham terhadap pelaksanaan dari ketentuan UU RI N omor : 17 tahun 2016 tentang penerapan Perpu Nomor : 01 tahun 2016 tentang perubahan kedua UU RI Nomor : 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak yang menyatakan bahwa perbuatan dan tindakan kejahatan seksual terhdap anak merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime)

“Oleh karenanya, patutlah jika saya mempertanyakan ada apa sesungguhnya yang terjadi di balik keputusan itu,”tegasnya, Senin, 18 November.

Dengan demikian, untuk memastikan pertimbangan dan dasar hukum majelis hakim memvonis 5 tahun penjara terhadap kepala sekolah SDN Soppeng, pihaknya akan meminta Tim Investigasi dan Advokasi Hukum Komnas Perlindungan Anak untuk segera mempelajari dan mengkaji pertimbangan dan dasar hukum dari vonis ringan tersebut.

“Vonis ringan majelis hakim atas perkara kejahatan seksual berulang dan terencana yang dilakukan HMD terhadap 12 siswinya adalah putusan hukum yang merendahkan martabat kemanusiaan dan melecehkan nilai-nilai hak asasi manusia”, tambah Arist.

Oleh majelis hakim terdakwa divonis hukuman 5 tahun pidana penjara untuk satu perkara. Sementara terdakwa sesungguhnya memiliki empat berkas perkara. “Berkas perkara nya sendiri ada 4, karena beda waktu kejadian,”jelasnya.

Kejahatan seksual berulang yang menjerat terdakwa sendiri dilakukan pada 14 orang siswa sekolah tempat pelaku bekerja.

Perbuatan pelaku diketahui dilakukan di tiga lokasi berbeda di ruang Kepala Sekolah, ruang komputer dan perpustakaan sekolah dan kejadian ini terjadi rentang waktu tahun 2014 hingga 2019. (eds)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...