Oknum Satpol PP Diduga Bobol ATM Bank DKI, Nilainya Capai Rp32 Miliar

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Anggota Satpol PP Jakarta dikabarkan terlibat pembobolan ATM bank DKI Jakarta. Selain itu, oknum polisi pamong praja itu juga melakukan pencucian uang hingga Rp32 miliar. Kasus ini mencuat setelah beredar informasi pemanggilan kepada oknum tersebut oleh penyidik Polda Metro Jaya.

Menanggapi itu, Kasatpol PP DKI Jakarta Arifin membantah jika anggotanya terlibat dalam pencucian uang. Hal itu berdasarkan pemeriksaan internal yang dilakukan oleh lembaganya.

“Pencucian uang, korupsi, itu tidak benar. Statusnya saat ini sedang diperiksa Polda Metro Jaya. Kita tunggu saja hasil pemeriksaannya seperti apa,” kata Arifin saat dihubungi, Senin (18/11).

Arifin menuturkan, peristiwa yang terjadi pada anggotanya yaitu menarik uang melakui ATM bersama menggunakan rekening bank DKI. Tarikan pertama gagal karena pin salah. Kemudian berhasil pada tarikan kedua, namun setelah uang keluar saldo tidak berkurang.

“Yang jadi pertanyaan kok bisa begitu. Itu juga perlu dipertanyakan ke pihak sana (bank DKI) dong,” imbuhnya.

Selain itu, hasil investigasi internal Satpol PP, Arifin menyebut kejadian penarikan uang ini sudah terjadi lama. Namun, baru ramai dan diproses sekarang.

“Menurut pengakuan mereka sudah lama. Bukan dalam sekali ambil sebesar itu, tidak. Ada yang bilang sejak Mei, lanjut sampai Agustus. Kenapa pihak yang sana juga baru hebohnya sekarang,” jelasnya.

Lebih lanjut, Arifin menyebut masih menunggu hasil pemeriksaan penyidik Polda Metro Jaya. Dia menyatakan akan memberikan sanksi tegas bagi anggotanya yang memang melanggar pidana. Baik itu korupsi, pencucian uang, maupun pembobolan.

“Jika nantinya setelah diselidiki oleh Polda ada niat tidak baik maka kami akan siapkan tindakan tegas berupa pemecatan,” tegasnya.

Di sisi lain, Arifin memastikan anggota yang tengah diperiksa polisi bukan Aparatur Sipil Negara (ASN), namun berstatus Pegawai Tidak Tetap (PTT). Saat ini mereka sudah dinonaktifkan sementara waktu hingga ada kejelasan hukum.

“Sudah dinonaktifkan per hari ini. Sebenarnya total ada 12 orang. Tapi ada beberapa orang yang dipanggil kemudian ada itikad mengembalikan yang tersebut ke Bank DKI. Jadi beberapa orang sudah selesai urusannya,” pungkasnya. (jpg/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...