Sebelum Beraksi, Teroris Medan Latihan di Tanah Karo

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAkARTA– Polri berhasil mengungkap camp atau tempat pelatihan militer RMN, pelaku bom bunuh diri di Polresta Medan, Sumatera Utara. Sebelum melancarkan aksinya, pelaku melakukan persiapan dan latihan di Tanah Karo Sumut.

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto mengatakan pelaku dan puluhan terduga teroris yang ditangkap melakukan latihan.

“Karena dari racikan bahan peledak dan temuan bahan-bahan yang kita temukan di beberapa TKP. Kemudian mereka juga ada senpi rakitan, senjata tajam, panah, kemudian senapan angin. Dan sebelumnya mereka ada latihan juga, latihan di daerah Tanah Karo, artinya mereka memang berlatih,” katanya di RS Bhayangkara Medan, Senin (18/11).

Kapolda mensinyalir kelompok ini sudah lama mempersiapkan diri jika dilihat dari barang-barang yang diamankan Densus 88 dan Polda Sumut.

“Jadi yang sekolah pemanahan dan latihan berkuda itu, sudahlah, untuk apa sih? Sekarang ini waktunya kreatif untuk menghadapi zamannya, dan jangan dikembalikan ke zaman batu. Teknologi semakin berkembang. Kalau kita kembali ke zaman batu, berarti kita ingkar kepada takdir,” tegas Kapolda.

Dilanjutkannya, para tersangka bom bunuh berbaiat kepada ISIS. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya setelah kematian pimpinan ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi yang diganti pimpinan baru.

“Mereka ini berbaiat kepada ISIS, baik Abu Bakar maupun penggantinya. Pascaminggalnya Abu Bakar ini mereka juga ingin menunjukkan eksistensi mereka,” katanya.

Mereka bergerak melalui media sosial dan kelompok-kelompok pengajian ekslusif.

Agus mengaku, pihaknya sudah terlebih dahulu melakukan monitor terkait kegiatan yang dilakukan kelompok tersebut.

“Selagi mereka tidak melakukan hal-hal yang membahayakan dan belum melakukan aksi kan kita tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah mereka melakukan aksi, kita lakukan pendalaman, ternyata kelompok jaringan ini seperti itu,” ungkapnya.

Selain itu, Agus menjelaskan Tim gabungan Densus 88 bersama Polda Sumut menangkap tiga tersangka lagi. Satu di antara mereka merupakan bendahara dari jaringan itu.

Ketiga tersangka berinisial C, HB dan HI. Mereka ditangkap di wilayah Belawan, Sumatera Utara, Senin (18/11) siang.

“Tiga orang ini adalah orang yang sebelumnya berjanji ketemu dengan tiga pelaku yang kemarin sempat melawan dan baku-tembak di Hamparan Perak,” katanya.

Dari hasil interogasi Densus 88, kata dia, HB dan HI memiliki kemampuan merangkai, kemudian C adalah bendahara.

“Dua ditangkap di wilayah Belawan, satu atas inisiatif kepala lingkungan menyerahkan tersangka yang merupakan bendahara,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Polri, Brigadir Jenderal Polisi Dedi Prasetyo menjelaskan, RMN dan istrinya, DA merupakan anggota Jamaah Ansharut Daulah (JAD). Keduanya diduga telah melakukan idad atau pelatihan militer bersama kelompoknya.

“Bersama suaminya ikut dalam jaringan JAD pimpinan Y, melakukan idad bersama kelompok JAD Y,” katanya di Mabes Polri, Jakarta.

DA diduga membeli peralatan senjata tajam dan sejumlah bahan-bahan untuk membuat bom. DA diketahui terpapar radikalisme lantaran kerap berkomunikasi dengan IPS, napiter perempuan yang saat ini ditahan di Lapas Klas II Medan.

Setelah DA terpengaruh paham radikalisme, kemudian DA mempengaruhi suaminya, RMN. Dedi mengatakan total 46 terduga teroris yang ditangkap paska bom Medan.

“Ada 46 tersangka seluruhnya. Perlu saya sampaikan, ini memiliki keterkaitan dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), amirnya (pemimpin) adalah Saudara Y,” kata Dedi di Mabes Polri.

Ia merinci, dari 46 orang tersebut, 23 orang merupakan jaringan Sumatera Utara-Aceh, dengan empat orang di antaranya menyerahkan diri.

“Empat orang menyerahkan diri, dua orang terpaksa dilakukan tindakan tegas dan terukur karena saat penangkapan melawan dengan senjata tajam dan airsoftgun dan menyebabkan satu petugas Densus luka akibat sabetan senjata tajam,” katanya.

Kemudian di Banten ditangkap empat orang, Di Jakarta tiga orang, di Jawa Tengah sembilan orang, d Jawa Barat ada enam orang dan di Kalimantan Timur satu orang.

Dedi menjelaskan, dari 23 tersangka yang ditangkap di Medan, terdiri atas 20 tersangka masih menjalani pemeriksaan, dua orang tewas karena melawan saat hendak ditangkap Densus 88 dan satu pelaku bom bunuh diri berinisial RMN yang tewas.

Sementara itu di Solo, Jawa Tengah, Tim Densus 88 menangkap tiga terduga teroris.

Kapolres Kota Surakarta AKBP Andy Rifai membenarkan penangkapan dan penggeledahan di tiga titik di Kota Solo.

Pihak Densus 88 telah meminta melakukan penggeledahan di tiga titik tersebut yakni Pajang Laweyan, Nusukan (Banjarsari), dan Kauman (Pasar Kliwon) Solo.

“Kami bekerja sama dengan Tim Densus 88 untuk mengirimkan anggota Inafis Polresta Surakarta ke lokasi untuk melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti di tiga tempat itu,” katanya.

Tiga terduga teroris tersebut yakni berinisial JM yang ditangkap di Kampung Sidodadi RT 5/1 Kelurahan Pajang Kecamatan Laweyan Solo. Lalu JDL, warga Kampung Nayu Timur RT 04/18 Kelurahan Nusukan Kecamatan Banjarsari Solo, dan Frm alias Nomi, warga Jalan Cakra 34 RT 03/05 Kelurahan Kauman Kecamatan Pasar Kliwon Solo.

Menurut Kapolres ketiga terduga teroris yang ditangkap di Pajang, satu orang, di Nusukan satu orang, dan Kauman juga satu orang, sehingga totalnya tiga orang.

Polisi di lokasi Pajang Laweyan menemukan sejumlah yang dapat dijadikan barang bukti antara lain sebuah laptop merk Asus warna merah, handphone Nokia, Dosbook Lenovo, flasdisk 8 GB, buku jihad, dan dokumen pribadi.

Polisi penggeledahan di Nayu Timur Nusukan Banjarsari menemukan sebuah handphone dan sejumlah dokumen, sedangkan di Kauman Pasar Kliwon, menemukan fotokopi Kartu Keluarga atas nama orang terduga teroris, akta kelahiran dan handphone. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...