Pemkot Surabaya Sulap Kalimas Museum Hidup

0 Komentar

GANDENG BEBERAPA KOMUNITAS: Kondisi Kalimas di Jembatan Ujung Galuh. Dispusip melakukan observasi untuk jadikan sungai tersebut museum hidup. (Dipta Wahyu/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, SURABAYA– Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Surabaya bersama beberapa komunitas melakukan observasi di Kalimas Rabu (20/11). Itu adalah langkah awal pemkot merealisasikan Kalimas sebagai museum hidup.

Salah satu objek yang dikunjungi adalah Pintu Air Kayoon. Di lokasi tersebut, Kepala Dispusip Surabaya Musdiq Ali Suhudi memantau bangunan sluis peninggalan kolonial. Bangunan itu adalah pintu air yang bisa digunakan untuk akses lalu lintas perahu.

Saat dipantau kemarin, bangunan tersebut memang tidak berfungsi. Pintu untuk membuka akses perahu sudah dicopot. Fungsinya kini hanya seperti bendungan. ’’Sebelum ke sluis, kami mengecek kondisi di Pintu Air Jagir yang merupakan hulu Kalimas,’’ paparnya.

Dia menyatakan, observasi tersebut merupakan langkah awal untuk menarasikan kawasan Kalimas sebagai museum hidup yang nanti bisa digunakan sebagai kawasan wisata. ’’Dengan adanya museum hidup ini, masyarakat akan tahu sejarah Kalimas,’’ tuturnya. Mulai adanya aktivitas masyarakat di sungai itu hingga perubahannya sekarang.

Dia menyebutkan, ada sisa peninggalan kolonial di Ngagel. Lokasi tersebut merupakan kawasan industri. Begitu juga kawasan Pasar Keputran. Dulu, kawasan itu terlihat kumuh. Namun, saat ini pemkot membuat taman cantik lengkap dengan fasilitas jogging track. ’’Jadi, pengunjung yang menyusuri Kalimas dengan menggunakan perahu akan mendapatkan banyak informasi,’’ ujarnya.

Untuk memudahkan observasi, dispusip telah membagi Kalimas menjadi tiga kawasan. Yakni, sisi selatan, tengah, dan utara. ’’Untuk hari ini (kemarin, Red), yang diobservasi baru sisi selatan dan tengah,’’ jelasnya.

Setelah mengobservasi, lanjut dia, pihaknya bakal menyusun narasi berdasar temuan dan kajian yang ada. Hasil narasi itulah yang akan digunakan sebagai bahan untuk menjelaskan kepada pengunjung mengenai Kalimas sebagai museum hidup.

Pendiri Komunitas Roodebrug Soerabaia Ady Setiawan menyatakan, sebelum dijadikan museum hidup dan tujuan wisata nanti, hal pertama yang dilakukan pemkot adalah revitalisasi kedalaman sungai. Sebab, di beberapa titik Kalimas saat ini mengalami pendangkalan parah.

Dia juga menyarankan dibangunnya akses untuk pejalan kaki dan pesepeda di sepanjang Kalimas. Akses tersebut penting untuk menumbuhkan semangat warga kota. ’’Pengalaman saya singgah di beberapa kota di luar negeri menunjukkan ini,’’ terangnya. (jpg/fajar)

Tentang Museum Hidup Kalimas:

  • Kalimas akan dibagi tiga zona kawasan. Masing-masing kawasan memiliki beberapa peninggalan unggulan.
  • Disiapkan narasi mengenai perubahan Kalimas dari masa ke masa.
  • Pengunjung juga bisa melihat aktivitas warga yang tinggal di sepanjang sungai.

Diolah dari berbagai sumber

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...