Astaga…Ada ‘Honorer Hantu’ di Pemkot Makassar

0 Komentar

Kantor Balaikota Makassar di Jl Ahmad Yani.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR-– Pasca mencuatnya desa hantu alias desa fiktif yang menerima dana desa dari pemerintah. Kini mencuat juga kasus baru honerer hantu alias fiktif.

Hal itu pertama terungkap dari legislator DPRD Makassar yang meminta pemkot tak serta merta menaikkan gaji honorer. Maklum, validasi data mesti dilakukan untuk menghindari adanya honorer fiktif honorer hantu

Pemkot Makassar memang berencana menaikkan gaji para honorer mulai Januari 2020 mendatang. Untuk itu sebagai syaratnya, DPRD Makassar meminta Badan Kepegawaian Daerah menyisir terlebih dahulu kemungkinan adanya honorer fiktif dalam daftar tenaga kontrak Pemkot Makassar.

Anggota Badan Anggaran (Banggar) DPRD Makassar, Abdul Wahab Tahir mengatakan, validasi data ini sangat penting, karena banyak honorer mendapat gaji setiap bulan. Namun, orangnya tidak pernah muncul di kantor.

Wahab mencontohkan tenaga honorer di Sekretariat DPRD Makassar. “Misalnya di DPRD, tercatat ada 200 lebih tenaga honorer, tapi yang aktif bahkan tidak sampai 100 orang,” kata Wahab Tahir.

Diakuinya kenaikan gaji honorer rasional dilakukan. Hanya saja, dengan catatan orang-orangnya disisir terlebih dahulu. “Pemerintah inginnya gaji honorer naik 50 persen. Kami di Fraksi Golkar ingin kenaikannya 100 persen tanpa potongan asuransi BPJS Kesehatan. Tapi jumlahnya harus diperjelas,” jelasnya.

Anggota Banggar lainnya, Mesakh Raimond Rantepadang menilai peningkatan jumlah tenaga honorer begitu signifikan sejak tahun ke tiga era pemerintahan Moh Ramdhan Pomanto saat menjabat wali kota Makassar.

“Tahun pertama saya di DPRD, saat itu masih di komisi A, data honorer itu masih 5.000 orang lebih lalu naik menjadi 8.000 orang,” sebutnya.

Menurutnya ada dua jenis honorer yang sudah harus diberhentikan. Yakni honorer yang namanya tercatat di BKD. Menerima setiap bulan gaji namun hanya tinggal di rumah. Lalu yang kedua, honorer yang tercatat, menerima gaji namun ternyata bekerja di tempat lain.

“Artinya status mereka sebagai honorer hanya menjadi tambahan penghasilan saja,” katanya. (taq)

REPORTER: MUSTAQIM-ARDIANSYAH
EDITOR HARIFUDDIN

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...