Materi Kurang, Kemampuan Ranjang Mengenaskan

0 Komentar

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

FAJAR.CO.ID,SURABAYA– Karin, 27, sudah tak ada niatan menyandarkan masa depan bersama Donwori, 35. Melihat bentukan suaminya saat ini, semua terlihat kelabu. Materi kurang, kehidupan ranjang mengenaskan.

“Seenggake masio bondo gak nduwe ki mbok yao pinter maine. Iki gak blase,” gerutu Karin, kesal, saat berada di sebuah kantor pengacara, dekat Pengadilan Agama (PA) Klas 1 A Surabaya, pertengahan pekan lalu. Kala itu Karin tengah menyerahkan urusan rumah tangganya ke meja hijau.

Baginya, Donwori sudah tak ada harapan. Lima tahun menjalani pernikahan, semuanya stagnan. Hanya badannya saja yang membesar dari hari ke hari. Kalau kata Karin, sudah susah membedakan mana dugong mana suaminya.

Kalau Karin sebut satu per satu, kekecewaannya terhadap Donwori terlalu banyak. Namun, ada dua hal yang membuatnya ngenes lahir batin. Hingga terdorong untuk bercerai.

Pertama, Donwori orangnya kurang sregep. Kurang sat set kinerjanya. Walhasil, sementara rekan kerja lain satu per satu naik jabatan, Donwori stagnan di bawah. Dengan gaji sama dengan karyawan baru. “Malah krungu-krungu apene ono pengurangan karyawan. Ketokane areke kenek,” lanjut Karin waswas.

Karin mengakui, selama menikah dengan Donwori, gaji bulanan yang diberikan suaminya jauh di bawah UMR Surabaya. Sebagai istri yang mengatur pengeluaran sebulan, ia kerap dibikin pusing dengan gaji suaminya.

Akhirnya tak jarang terlibat cekcok. Biasanya cekcok ini dipicu agar Donwori cari tambahan lain. Namun, selalu ditolak oleh Donwori dengan kata-kata pamungkasnya. “Isoku mung iki, kudu piye maneh.”

Sudah kesal dengan masalah ekonomi, Karin makin dibuat kesal dengan performa ranjang Donwori. Katanya, ‘ Itu’- nya terlalu kecil dari ukuran kebanyakan. Ditambah, Donwori tidak kreatif. Sehingga jangankan bahagia, Karin lebih sering merana. “Kadang aku pengen koyo nak pilem-pilem. Cuma areke kan kaboten awak ya. Dadi diajak aneh-aneh males sisan,” sambat Karin.

Gara-gara ini jugalah, kekesalan Karin ke Donwori makin dobel-dobel. Setidaknya kalau tidak bisa mencukupi dua-duanya, mbok ya salah satu. Kan kalau banyak uang tapi suami letoy, Karin bisa jajan. Eh! Atau kalau gak ada uang tapi sudah bahagia di ranjang, setidaknya bisa mesra dan saling mengerti. Ya kannn?

Tapi, ini blas gak ada yang dipertahankan. “Mangkane sebelum dipecat temenan areke, tak njaluk cerai duluan. Cek setidake engkuk ono duwet lek tak tuntut uang imbalan,” lanjut Karin.

Baginya, tak masalah gara-gara perceraian ini ia dilabeli matre oleh keluarga besar Donwori. Meski selama ini juga sudah dicap matre. Karena baginya, perempuan memang harus matre. Kalau cuma berdua saja masih kelaparan, bagaimana bisa menghidupi anak nantinya, pikirnya. Sory ya, cari yang lain saja. (*/opi)

(sb/is/jay/JPR)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...