Pembuat Sarung Badik, Pelanggan Tersebar hingga ke Malaysia

0 Komentar

TRADISIONAL. Jisruddin Nur atau yang akrab disapa Panre Ajis membuat sarung badik dan keris sejak berusia 14 tahun. (FOTO: AGUNG PRAMONO/fajar)

Sama dengan bilah, sarung badik tak bisa asal buat. Ada aturan yang harus diperhatikan. Jika diabaikan, bilah badik tak bisa tercabut dari sarungnya.

Laporan: AGUNG PRAMONO

FAJAR.CO.ID, BONE — Pembuat sarung badik itu bernama Jisruddin Nur. Ia tinggal di pelosok Dusun Cempae, Desa Matuju, Kecamatan Awangpone. Satu-satunya orang di kecamatan tersebut yang dikenal sebagai pembuat sarung andal. Bahkan, ketenaran Jisruddin sampai hingga ke Negeri Jiran, Malaysia.

Jarak rumahnya dari kota Watampone sekitar 22 kilometer, ke arah Kabupaten Wajo. Untuk menemui pria yang akrab disapa Panre Ajis ini, penulis harus menyusuri Desa Matuju. Dari jalan poros Bone-Wajo masuk lagi sekitar lima kilometer melewati jembatan gantung. Rumahnya berada tepat di tengah daerah persawahan.

Di lokasi tersebut berdiri tiga rumah. Rumah Panre Ajis berada di tengah. Saat tiba, ada seorang wanita yang duduk di teras. Ia sedang tekun dan fokus membuat sebuah bakul.

Lokasi pembuatan sarung badik Panre Ajis berada di belakang rumah wanita itu. Ada sebuah ruangan khusus. Suasananya cukup berantakan. Banyak kayu yang memenuhi ruangan tersebut. Bukan sembarang kayu.

“Kayu khusus. Sebagian besar kayu cendana yang tidak sembarangan. Harus ada batiknya,” ucap Panre Ajis, saat ditemui baru-baru ini.

Lelaki kelahiran 1975 silam itu menceritakan pembuatan sarung badik yang sudah digelutinya sejak usianya 14 tahun. Kepandaiannya merupakan turunan dari sang ayah, Muhammad Nurung. Dari enam bersaudara, hanya dirinya yang melanjutkan generasi sebagai pembuat sarung badik.

Kayu cendana yang dibutuhkan hanya tersedia di Lanca, Kecamatan Tellusiattinge. Harga per lembarnya Rp200 ribu dengan panjang 2 meter 40 cm. Sedangkan untuk kepala badik berasal dari kayu kemuning. Selain sarung badik, Panre Ajis juga pandai membuat sarung keris.

Di meja kerjanya, ada banyak logam kuno. Dua alat penghalus logam dan satu alat pemukul. Meski proses pembuatannya sangat tradisional, namun hasilnya sudah terpercaya.

“Rata-rata pelanggan tersebar di wilayah Sulawesi Selatan. Ada juga dari Jakarta dan Jambi,” ucap suami Sahmiah itu.

Pesanan datang tak menentu. Terkadang tiba-tiba banyak, sampai 20 buah. Untuk jangkauan pesanan lebih luas, Panre Ajis juga memasarkan produknya di media sosial.

“Ada juga pesanan dari Malaysia. Pemesannya Datuk Majid. Ia memesan sarung keris, datang langsung ke sini,” paparnya.

Untuk satu buah sarung badik atau keris bisa selesai dalam sehari. Itu jika tidak sepenuhnya berbalut logam. “Kalau full logam bisa sampai tiga hari,” ungkap Panre Ajis.

Ia membanderol sarung badik kecil Rp250 ribu hingga Rp350 ribu. Paling mahal, sarung full logam yakni Rp700 ribu. Sementara sarung keris kecil standar dipatok Rp500 ribu, dan ukuran besar Rp700 ribu. Ia mengaku kewalahan jika ada yang memesan hanya memperlihatkan model gambar saja.

“Ada istilah orang dahulu. Dari gagang ke sarung tidak boleh tersentuh tangan saat dipegang. Menurut filosofinya, gerutu biasa kalau ada punya ilmu tidak bisa tercabut. Makanya kita usahakan buat tidak tersentuh,” ungkapnya perlahan.

Panre Ajis menujukkan salah satu kepala badik yang sudah dibuatnya dan tidak diperjualbelikan. Menurutnya, sangat jarang untuk mendapatkan benda seperti itu. Apalagi dipercaya sangat banyak manfaatnya. Ia menyebutnya hulu carido (mirip tenggorokan manusia).

“Yang hulu carido disimpan karena sangat spesial. Jarang bisa didapat kalau seperti itu. Keistimewaannya kata orang dahulu, ada yang bisa mendatangkan keuntungan. Ada juga yang biasa pakai berobat. Itu filosofi orang dahulu. Makanya langka karena banyak kegunaannya,” sebutnya.

“Kalau di daerah Awangpone hanya saya yang membuat begini. Tetapi ada juga di Lappoase. Pak Bupati juga ke sini pesan untuk badik raja. Karena mau dipasangkan emas. Cuma sarung dan gagangnya saja yang saya bikin,” tutupnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...