Petani Garam Menjerit, Situasi Makin Sulit

0 Komentar

Petani garam jeneponto.

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR–Keinginan Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah menjadikan Kabupaten Jeneponto pusat industri, sulit terwujud. Progres industri itupun hingga kini belum jelas.

Sekarang, petani Jeneponto sedang menjerit karena anjloknya harga. Bayangkan, satu karung besar yang biasanya dihargai hingga Rp200 ribu, sekarang hanya Rp65 ribu.

Bagitupun dengan harga dengan karung menengah. Sekarang, harganya hanya Rp25 ribu. “Padahal biasanya Rp60 ribu sampai Rp70 ribu,” katanya salah satu petani, Nompo.

Kata Nompo, kondisi ini sudah berlangsung sejak awal tahun 2019. Bahkan, dia mengaku harga lebioh rendah lagi dari sekarang. “Hanya Rp35 ribu untuk satu karung ukuran 50 kilogram,” katanya.

Pria yang mengaku punya banyak binaan petani ini sangat berharap, petani bisa memberikan solusi. Khususnya agar harga bisa mensejahterahkan petani garam di Jeneponto.

Tak sekadar murah, garam petani juga diakui seperti tak diminati lagi. Di musim panen ini, diakui tidak ada pendagang yang datang membeli garam petani. “Jadi menumpuk di gudang,”keluh salah satu petani, Nompo yang dihubungi FAJAR, malam tadi.

Sebelumnya, Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar, mengatakan anjloknya garam Jeneponto karena produksi garam yang melimpah. Dilain sisi, kata dia kadar garam Jeneponto belum mencapai 80 persen.

Hal itulah, diakui penghambat rencana menjadikan garam Jeneponto ssbagai industri garam. Sebab syaratnya, kadar garam minimal 90 persen sekian. “Saat ini Unhas sedang mengerjakan itu. Muda-mudahan nantinya bisa terwujud,” katanya.

Akan tetapi, dia Bupati yang akrab disapa Kareng Ninra ini, menyebut produksi garam Jeneponto sudah tidak diragukan lagi.Lahan yang tersedia sekarang sudah di atas 600 hektare. “Itu masih bisa dibuka lagi,”katanya. (mum)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...