Antara Rudiantara


Oleh Dahlan Iskan

FAJAR.CO.ID– Lihat dulu ”kelas” kementeriannya. Lihat pula ”kelas” BUMN-nya.

Dari Menteri Kominfo ke Direktur Utama PLN harusnya tidak termasuk yang bisa disindir sebagai turun pangkat.

Bahkan naik ”kelas”.

PLN memang di bawah menteri. Secara struktur. Demikian juga Pertamina. Tapi dirut dua BUMN tersebut bisa dibilang tidak kalah kelas dengan menteri.

Banyak kementerian yang anggaran jauh di bawah PLN atau Pertamina.

Kalau ke Tiongkok saya sering diperkenalkan sebagai menteri kelistrikan.

”Saya bukan menteri,” sergah saya. ”Saya ini hanya Dirut PLN”.

”Di sini kelas Dirut PLN disebut menteri,” tukasnya.

Terserah saja.

Yang penting saya harus mulai waspada. Mereka boleh pinter, kita tidak boleh bodoh.

Dirut PLN –dan Pertanina– tidak jarang diundang ikut sidang kabinet –meski duduknya di barisan belakang. Dan tidak boleh bicara kalau tidak diminta.

Saat bicara pun harus pandai-pandai mengatur lidah: banyak atasan yang bisa terjepit di forum itu.

Ejekan bahwa dari Menteri Kominfo ke Dirut PLN itu turun kelas pasti datang dari orang yang sangat sadar-kelas.

Rudiantara tidak harus merasa turun kelas. Harus merasa naik kelas.

Memang ia kan Menteri Komunikasi dan Informasi. Tapi kan mantan. Tentu ia harus mau ditugaskan menjadi Dirut PLN.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar