Antara Rudiantara


Saya justru salut kepada orang yang punya ide menempatkan mantan menteri itu ke Dirut PLN. Kok terpikir ya.

Memang sulit mencari dirut baru PLN saat ini. Banyak yang hebat-hebat di dalam PLN. Tapi mungkin saja belum dikenal oleh para pengambil putusan.

Dikenal itu penting. Untuk diketahui akan bisa dipercaya atau tidak. Terutama kemampuan dan integritas mereka.

Memilih dirut perusahaan sekelas PLN memang juga harus mempertimbangkan iklim kerja di dalam.

Misalnya apakah ada kubu-kubun di dalamnya. Yang pro dirut lama dan yang kontra. Yang di tengah pun dianggap kejepit: dianggap kubu yang lain lagi.

Para ahli di dalam PLN dikhawatirkan sudah berada dalam salah satu kubu –biar pun sebenarnya tidak.

Itu bagian dari nasib.

Setidaknya Rudiantara tidak terlibat perkubuan itu.

Memang ia pernah menjabat Wakil Direktur Utama PLN. Tapi itu sudah 10 tahun lalu. Sebelum ada kubu-kubuan.

Memang ia bukan orang teknik. Bukan elektro. Tapi sudah pernah menjadi wadirut lima tahun. Ia sudah sangat paham masalah PLN –yang teknis sekali pun. Ia sudah ”orang dalam” PLN.

Di PLN Rudiantara banyak menangani energi primer. Yakni yang menangani pengadaan solar, batubara, gas, dan sejenisnya. Di zaman ialah PLTGU Muara Tawar berubah total. Dari 100 persen Solar ke 100 persen gas.

Komentar


KONTEN BERSPONSOR