Setiap Orang Punya Hak Atas Ruang Publik

Andi Faisal

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Sekolah KM10 hadir di Makassar. Sekolah yang khusus mendiskusikan tentang ruang atau space. Diskusi awalnya dengan tema “Produksi Ruang (Sosial) dan Kehidupan Sehari-hari” di Perpustakaan Unhas, Rabu, 27 November 2019.

Diskusi itu sebagai penanda hadirnya Sekolah KM10. Andi Faisal merupakan Dosen Sastra Prancis Fakultas Ilmu Budaya Unhas sebagai pemateri awal. Diskusi yang dibuka oleh Kepala UPT Perpustakaan Unhas, Fierenziana Getruida Junus.

Dalam diskusi, Faisal menjelaskan, sejarah perkembangan ruang. Awalnya ruang yang merupakan absolute space. Ruang yang bersifat alami yang dijelaskan oleh hukum-hukum alam, misalnya matematika dan fisika. Namun, dalam perkembangan ruang yang tadinya konkret menjadi sangat abstrak. Itu karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan.

Selain itu, bagi Faisal, ruang juga telah mengalami perkembangan sehingga ruang dilihat sebagai produksi sosial. “Karena, setiap masyarakat memproduksi ruang. Kita bertemu teman pasti merujuk ruang. Ruang sangat penting menjelaskan ruang interaksi kita,” ujarnya.

Bahkan ruang bisa menjelaskan identitas seseorang. Misalnya, sebuah warung kopi yang sering dikunjungi oleh politikus untuk berdiskusi. Maka ruang “warung kopi” itu telah membentuk ruangnya sebagai tempat kumpul politikus. Itu tentu telah menyaring masyarakat yang datang ke tempat itu. “Ruang juga bisa menjelaskan identitas,” ungkapnya.

Akan tetapi, pada prinsipnya setiap orang punya hak atas ruang. Sebagaimana kata Faisal, hak asasi manusia seperti sandang, pangan, bersuara, memilih, dipilih, masyarakat juga berhak atas ruang sebagai hak asasinya. “Hak atas ruang itu sebagai partisipasi (keterlibatan) dan apropriasi ruang sebagai bagian dari miliknya,” tuturnya.

Komentar

Loading...