Kaki Diterkam Hiu, Selamat Berkat Kawanan Lumba-lumba

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kekompakan menjadikan musibah bisa dilalui. Kendati dalam situasi paling buruk di laut lepas saat kapal tenggelam.

Aswar Abdul Hakim, sudah lama hobi memancing. Usianya yang kini 39 tahun, tak memupuskan kegemarannya itu.

Karena hobi itu, bersama 11 rekannya yang memiliki hobi yang sama, melakukan perjalanan di perairan Banggai, Sulawesi Tengah, Jumat, 21 November lalu.

Mereka memang sengaja mengatur waktu untuk menghabiskan liburan. Mengisi kekosongan dan meluangkan waktu menyalurkan hobi dengan memancing. Akhir pekan mereka rencanakan untuk itu. Jumat-Minggu libur.

Bekal secukupnya dan peralatan, mereka siapkan di atas perahu boat yang mampu menampung hingga 20 penumpang.

“Perjalanan cukup indah, dimulai dari ujung laut Kota Banggai. Penuh kegembiraan. Namun naas, sebuah musibah datang menimpa,” tutur Aswar Abdul Hakim kepada FAJAR, Kamis malam, 28 November atau sepekan setelah mereka meninggalkan daratan.

Eky –sapaan Aswar Abdul Hakim– bercerita, speedboat yang mereka tumpangi kala itu, mengalami korslet. Sehingga bagian mesin menimbulkan api dan mulai membakar badan perahu.

Eky dan teman-temanya mulai menyelamatkan diri. Setelah badan kapal terbakar, mereka bergegas memakai pelampung. Sebuah kasur yang terbuat dari gabus yang mereka bawa di atas kapal, mereka turunkan ke laut.

Kasur ini mereka pakai sebagai penopang tubuh mereka agar bisa terombang ambing di atas air. Rasa panik sudah tak bisa dibendung.

Tak ada pertolongan dari siapa pun. Mereka hanya 12 orang di tengah laut. Jalan satu-satunya mereka harus berusaha berenang hingga ke tepian, ataupun berharap ada kapal nelayan melintas. Hanya itu yang bisa menolong kala itu.

Beberapa jam berlalu, siang berganti malam. Sudah 10 jam mereka di laut tanpa makan dan minum. Bukannya ada yang menolong, justru musibah kembali mengadang mereka.

Kawanan ikan hiu menyerang salah seorang rekan Eky, Safar. Kaki kirinya di terkam hiu hingga mengalami luka dalam.

Rekan lainnya tak ingin tinggal, mereka berusaha saling tarik menarik dengan hiu. Seperti cerita dongeng, namun kenyataannya seperti itu.

Kemelut dan gelut antara hiu dan manusia terjadi. Saat itu seperti Tuhan mengirimkan bantuan kepada mereka melalui lumba-lumba.

Lumba-lumba ini menarik perhatian hiu hingga terpancing mengejar dan meninggalkan 12 kawanan pemancing ini. Nyawa mereka kembali aman. Perjalanan dimulai, namun sayang Safar terluka.

Ia dinaikkan ke atas kasur yang sudah diberi beberapa benda seperti bantal agar tetap mengapung. Tak ada percikan darah di laut setelahnya sambil 11 orang bersigap mengelilingi Safar yang kakinya terluka. Kakinya tak tersentuh air setelah sebelumnya diikat kuat dengan pakaian.

Eky bergumam, ia selalu dikuatkan oleh rekan-rekannya. Hingga pria lulusan Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar ini, mulai bernapas lega setelah menemukan rakit dan dilihat oleh nelayan.

“Di sini kami sadar kuasa Tuhan itu ada dan kami masih diberi kesempatan kedua untuk hidup,” tutur pria kelahiran 27 Februari 1981 ini.

Tak hanya Eky, Safar yang kakinya sempat digigit hiu kala itu sudah mulai ikhlas dengan takdir. Ia rela jika saat itu ia tak bisa pulang lagi ke rumahnya berkumpul kembali dengan keluarga.

Safar tersenyum, ia bahagia. Rasa syukur tak henti ia panjatkan kepada Sang Pencipta yang masih memberinya kesempatan memperbanyak ibadah.

“Saya seperti mimpi dan ini mungkin peringatan dari yang Mahakuasa,” ucap Safar. (wis/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...