Kolektor Barang Antik, Kerap Dipinjam untuk Syuting Film

0 Komentar

Kolektor barang antik, Ansar Mulkin, memperlihatkan salah satu koleksinya di rumahnya yang diberi nama Gallery Tempo Doeloe di Kelurahan Buntusu Kecamatan Tamalanrea, Rabu, 27 November. Semua barang antik koleksinya dia dapatkan di Makassar. ABE BANDOE/FAJAR

Kegemaran mengoleksi barang antik turun dari ayahnya. Barang antik itu kini menjadi investasi Ansar.

Laporan: DEWI SARTIKA MAHMUD

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kentongan tua terpajang di depan pintu pagar sebuah rumah di komplek BTP Blok J RT 009 RW 13. Meski lusuh tak berwarna, kentongan itu menambah nilai estetik pemandangan luar rumah itu.

Sebuah plang berukuran kecil menunjukkan nama tempat itu. Namanya “Galery Tempo Doeloe”. Lebih dari 1.000 barang antik di dalam rumah yang disulap jadi galeri.

Galeri ini milik Ansar Mulkin. Koleksinya beragam, mulai dari piringan hitam lengkap dengan alat pemutarnya atau gramofon hingga gelas zaman dahulu. Masyarakat di Sulsel menyebutnya canteng.

Ada pula koleksi berupa kaset lagu-lagu memori, senter besi, lampu petromak, kamera jadul. Bahkan, beberapa koper tua bekas para pejabat zaman penjajahan Belanda, turut menjadi koleksinya.

Kegemaran dosen manajemen STIEM LPI Makassar itu mengoleksi barang antik, diturunkan dari ayahnya. Kala itu sang ayah mengumpulkan beberapa gelas dan piring-piring jadul yang terbuat dari besi.

Ansar kemudian mulai mengumpulkan barang antik sejak 2008 silam. Ketika sedang berada di luar kota, dirinya menyempatkan waktu berburu barang antik.

Pria kelahiran 1 Januari 1980 ini tersenyum. Sebuah kamera jadul dengan penutup ia pegang. Ansar mengungkapkan, sudah banyak sineas film yang menawarinya untuk dibeli. Namun ia tak ingin menjualnya.

“Bukan tak mau menjual, tapi sayang sekali kalau susah carinya lalu diberi ke orang lain,” ucapnya.

Tak hanya orang lokal yang menawari ingin membeli beberapa koleksi barang antiknya. Kadang ada wisatawan mancanegara yang diajak oleh pegawai Dinas Pariwisata berkunjung melihat koleksinya.

“Barang-barang antik ini investasi. Kalau disewakan, saya mau. Tapi kalau dijual, saya masih berpikir,” ungkapnya sambil mengerutkan keningnya.

Ansar juga rajin mengoleksi dokumen. Dari kliping koran, dokumen-dokumen tulisan Belanda, hingga bungkus produk makanan juga disimpan di rumah berlantai dua tersebut.

Di tengah hobinya mengumpulkan barang antik,
Ansar bersyukur, keluarganya mendukung. Utamanya mertua perempuannya bernama Haitun Diana Kalia (69).

Ternyata, mertuanya menyenangi kokeksi barang-barang antik menantunya itu.

Bahkan, sesekali ia mengambil piringan hitam yang masih bagus dan diputarnya di gramofon. Ini dilakukannya sambil bernostalgia.

“Saya paling suka putar lagu-lagu daerah Bugis Makassar kalau lagi santai-santai,” ungkapnya.

Meski sudah memiliki banyak koleksi, pria berjanggut ini masih ingin terus berburu barang-barang antik.

“Saya prioritaskan di daerah Sulsel dulu. Saya belum mau keluar karena di Sulsel begitu banyak sejarah yang terukir dari zaman dahulu,” ungkapnya.

Tak sekedar dipajang di galeri saja. Barang-barang antik milik Ansar juga telah dipakai untuk keperluan syuting layar lebar. Salah satunya film “Ati Raja” karya Shaifuddin Bahrum.

Beberapa barang-barang antik dipinjam sebagai properti syuting. (*/rif)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...