Menipu di Indonesia, 80 WN Tiongkok Dideportasi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, JAKARTA – Direktur Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes Pol Iwan Kurniawan mengatakan 80 Warga Negara Asing (WNA) Cina tersangka kasus penipuan dideportasi atas pemintaan Pemerintah Republik Rakyat Cina (RRC). Sementara 104 orang asing juga dipulangkan karena overstay sampai terlilit kasus perizinan.

“Kami sudah menerima permohonan dari Cina dan Kedubes China untuk membantu melakukan penangkapan kasus penipuan online ini, di mana banyak yang jadi korban warga Cina,” kata Iwan di Polda Metro Jaya, kemarin (28/11).

Ditegaskan Iwan, permintaan pemerintah RRC dan korban yang seluruhnya adalah warga Cina menjadi dasar bagi Polda Metro Jaya untuk mendeportasi seluruh tersangka untuk kemudian menjalani proses hukum di RRC. Polda Metro Jaya sebelumnya mengamankan 85 WNA asal Cina yang ditengarai merupakan anggota sindikat penipuan Internasional. Namun setelah diperiksa secara intensif hanya 80 orang yang terbukti sebagai anggota sindikat.

Selain itu, petugas juga turut mengamankan enam WNI saat penangkapan 85 WN Cina tersebut. Namun enam orang itu terbukti tdak terlibat tindak pidana penipuan dan hanya berstatus saksi. Iwan juga mengatakan pihaknya sangat terbuka apabila dimintai bantuan oleh aparat penegak hukum China untuk menyelesaikan kasus ini. Termasuk apabila enam WNI dibutuhkan sebagai saksi. “Nanti tergantung dari kepolisian Cina. Untuk BAP ya kita ambil keterangan saksi atau bisa kita kirimkan sesuai dengan prosedur yang berlaku,” ujarnya.

Penyidik Ditreskrimsus)Polda Metro Jaya sendiri telah menyerahkan 80 WNI tesebut kepada Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) untuk dideportasi. “Hasil pemeriksaan kami hanya ada 80 yang diduga terlibat penipuan online. Sesuai koordinasi kami dengan Divhubinter dan juga Imigrasi, direncanakan 80 ini akan kita serahkan ke Imigrasi untuk proses lebih lanjut,” kata Iwan.

Sedangkan lima WN Cina lainnya dinyatakan tidak terlibat dalam sindikat penipuan tersebut sehingga tidak ikut diserahkan kepada Dirjen Imigrasi. Pada Senin (25/11), tim gabungan Polda Metro Jaya secara serentak menggerebek enam lokasi di Jakarta dan satu lokasi di Malang, Jawa Timur. Total 91 orang diamankan dalam operasi tersebut, dengan rincian 85 WNA Cina dan 6 WNI.

Sementara itu, Divisi Keimigrasian Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kanwil Kemenkumham) Provinsi Jawa Tengah selama periode Januari-November 2019 telah mendeportasi sebanyak 104 orang asing. “Kebanyakan overstay (melebihi batas waktu tinggal, red), juga ada yang melanggar perizinan keimigrasian,” terang Kepala Divisi Keimigrasian Kanwil Kemenkumham Jateng Esti Winahyu Nurhandayani dalam rilis yang diterima.

Nah dari jumlah itu, 14 orang asing dilakukan pro justisia (penegakan hukum keimigrasian, red.), yakni 13 orang dari Kantor Imigrasi Kelas I Tempat Pemeriksaan Imigrasi (TPI) Semarang dan satu orang dari Kantor Imigrasi Kelas II Non-TPI Pemalang.

Selebihnya, lanjut dia, dideportasi karena melebihi batas waktu tinggal di Indonesia (overstay). Sementara itu, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Cilacap Bisri mengatakan, dari 104 orang asing yang dideportasi dari wilayah Jateng, sebanyak 17 orang di antaranya dari Kantor Imigrasi Kelas II TPI Cilacap.

“Kebanyakan merupakan mantan narapidana asing yang baru bebas dari hukuman karena di wilayah Kantor Imigrasi Kelas II TPI Cilacap ada Pulau Nusakambangan. Jadi, kebanyakan mantan narapidana dari Nusakambangan yang kita deportasi,” katanya.

Selain itu, kata dia, sejumlah pekerja asing dari beberapa perusahaan di Cilacap juga telah dideportasi selama periode Januari-November 2019. “Di Cilacap kan perusahaannya ada PLTU dan Pertamina,” tambahnya.

Disinggung mengenai keberadaan orang asing di Banjarnegara, dia mengatakan, berdasarkan data Kantor Imigrasi Kelas II TPI Cilacap, jumlah pekerja asing yang memegang kartu izin tinggal terbatas (Kitas) sebanyak 16 orang. Menurut dia, ke-16 pekerja asing tersebut diketahui bekerja di dua perusahaan asal Korea Selatan yang ada di Banjarnegara.”Jadi, jumlahnya memang sangat sedikit,” katanya. (fin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...