Benarkah Tes Psikometri Dapat Berfungsi dalam Rekrutmen Pekerja?

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR– Apakah yang sebenarnya dicari oleh perusahaan bila rekrutmen pekerja yang diadakan mencakup tes psikometri, penilaian, dan analisisnya? Apakah yang sebenarnya diukur dari tes psikometri?

Pertanyaan seperti ini sudah tidak asing lagi, karena cenderung menjadi seperti sebuah pernyataan akan kekhawatiran alih-alih pertanyaan yang sungguh-sungguh. Kekhawatiran mengenai tes psikometri tersebut seringkali disebabkan karena ketidaktahuan tentang apa dan bagaimana tes psikometri itu sendiri, serta fungsinya dalam rekrutmen pekerja.

Tes psikometri digunakan dalam rekrutmen pekerja karena perusahaan menginginkan suatu cara yang adil dan akurat untuk memprediksi pelamar mana yang mungkin dapat berhasil dalam suatu pekerjaan tertentu. Tes psikometri ini diadakan dengan tujuan untuk menilai kemampuan spesifik para kandidat yang mengikuti seleksi dan keterkaitannya dengan persyaratan peran dalam kerja yang ditawarkan.

Kini, sudah banyak sekali organisasi ataupun perusahaan di seluruh dunia yang telah mengintegrasikan penggunaan tes psikometri di dalam proses rekrutmen pekerjanya. Mereka secara aktif menggunakan tes psikometri dan analisisnya untuk membantu proses perekrutan pekerja agar kandidat yang terpilih adalah yang benar-benar paling sesuai dengan posisi dan tugas kerja yang ditawarkan. Mereka juga menggunakan tes psikometri untuk tambahan dorongan atau motif dalam hal pengembangan personel para pekerjanya.

Tes psikometri menjadi metode paling tepat karena yang terjadi adalah informasi dari wawancara saja tampaknya tidak cukup kuat untuk memprediksi kandidat mana yang paling sesuai dengan suatu tanggung jawab kerja tertentu. Selain itu, apa yang disebutkan di Curriculum Vitae bisa jadi sekadar klaim kandidat saja. Tes psikometri dapat mengidentifikasi kebenaran klaim tersebut.

Dengan kata lain, tes psikometri sebenarnya berfungsi sebagai cara bagi pemberi kerja untuk menentukan apakah CV dan jawaban wawancara kandidat memang merupakan representasi akurat dari kepribadian dan keterampilan mereka. Pada dasarnya, hasil tes psikometri akan memberi tahu calon pemberi kerja mengenai apakah keterampilan dan pengetahuan kandidat sudah sesuai dan apakah kandidat akan dapat cocok dengan lingkungan kerja nantinya.

Tes psikometri dan hasil analisisnya membantu mengungkapkan motif dan motivasi di level individual, dorongan, dan gaya perilaku yang membantu perekrut untuk mempertimbangkan sebelumnya mengenai bagaimana kandidat nantinya akan berbaur budaya perusahaan, dan apakah kira-kira ke depannya kandidat tersebut dapat menjadi pekerja dengan kinerja terbaik ketika nantinya jadi dipekerjakan.

Tes psikometri yang tepat dan dilaksanakan sebagaimana mestinya akan dapat mengesampingkan aspek-aspek yang tidak konsisten mengenai kandidat, termasuk bila ada kandidat yang mencoba mencurangi sistem demi untuk memenangkan kompetisi dalam rangkaian wawancara dan tes psikometri. Bagian kepegawaian tentu saja hanya mencari kandidat dengan skor terbaik sesuai dengan standar perusahaan. Karenanya, tes psikometri sudah seharusnya divalidasi oleh pewawancara dan hasil dari contoh kerja. Tujuan validasi tersebut adalah untuk mengetahui dengan lebih akurat apakah kandidat benar-benar konsisten yang harus dilakukan dalam pekerjaan yang sebenarnya.

Misalnya, orang yang suka atau mudah bergaul cenderung mendapat hasil gemilang dari wawancara. Namun, di sisi lain, mereka justru juga berpotensi memberi kinerja yang tidak begitu bagus di tempat kerja. Oleh sebab itulah, setiap detail informasi mengenai klaim kemampuan kandidat perlu dikuatkan dengan tes psikometri.

Memang, masih ada saja keraguan mengenai urgensi tes psikometri di sebagian kalangan. Walaupun demikian, tes psikometri benar-benar dapat berguna ketika penyedia lapangan kerja atau bagian kepegawaian mengetahui dengan pasti tentang pekerja seperti apa yang mereka inginkan dari kandidat yang berhasil.

Bagian rekrutmen pekerja, dalam hal ini, dapat membuktikan bahwa tes psikometri yang kini banyak dilakukan oleh para perekrut dapat membantu perusahaan mengurangi atau mencegah risiko dalam rekrutmen pekerja. Termasuk di antaranya dalam rekrutmen pekerja untuk beberapa departemen yang saling berbeda satu sama lain. Dengan adanya tes psikometri, perekrut dapat menyortir dengan efisien para kandidat yang memiliki skor kesesuaian rendah pada pekerjaan dan, sebaliknya, mempekerjakan mereka sesuai dan cocok dengan pekerjaan yang dimaksud. Implementasi dari tes psikometri adalah untuk menambah akurasi dalam pencocokan pekerjaan.

Yang penting untuk dipahami adalah tidak ada satu peserta pun yang benar-benar bisa atau harus mendapatkan hasil sempurna dari tes psikometri, karena memang tujuan dari tes psikometri bukanlah untuk atau tentang mendapatkan skor sempurna.

Tes psikometri, singkatnya, adalah terutama untuk mendahulukan kegunaannya, yaitu bagi para perekrut untuk mengetahui sifat atau hasil tertentu yang pas, cocok, sesuai, dengan kandidat terbaik. Maka, penting juga untuk diingat bahwa berhasil atau tidaknya kandidat bukan sekadar dari melampaui tes psikometri. Bahwa, tes psikometri bukan juga mengenai benar atau salah.

Keberhasilan kandidat, karenanya, bukan pula berdasarkan skor tes psikometri yang tinggi, seperti tak berhasilnya kandidat bukanlah karena lolos tes psikometri dengan skor yang rendah saja atau pas-pasan. Apa yang dimaksud dengan kandidat yang berhasil adalah lebih ditentukan oleh seberapa pas, cocok, sesuai kandidat tersebut dengan apa-apa saja yang diinginkan oleh perusahaan dan dibutuhkan dalam pekerjaan. Jadi, hasil tes psikometri yang diperoleh kandidat dapat menjadi aspek pendukung sekaligus penghalang pada keberhasilan mereka untuk misalnya mendapatkan posisi atau kerja yang diinginkan.

Mungkin, ada lebih dari satu kandidat yang sama-sama memiliki kriteria yang bagus untuk satu pekerjaan. Di sinilah fungsi tes psikometri, yaitu tentang persoalan identifikasi apakah kandidat itu cocok atau tidak. Yang tidak cocok tentu saja tidak akan mengurangi potensi untuk dipilih.

Dari keseluruhan uraian di atas, haruslah juga dipahami bahwa ada ilmu tersendiri di balik tes psikometri. Ciri-ciri kepribadian adalah karakteristik yang ditentukan, yang muncul secara konsisten meskipun keadaan berubah. Sebaliknya dengan perilaku. Dapat dikatakan bahwa perilaku adalah serangkaian tindakan yang dilakukan seseorang terhadap diri sendiri, lingkungan, orang lain, atau stimulus yang berkenaan dengan bagaimana seseorang menerima rangsangan dan respons pada rangsangan tersebut.

Sebagai contoh, ekstravert adalah sifat, ciri, atau karakter. Sebaliknya dengan seorang ekstravert yang duduk diam dengan tenang dalam suatu rapat. Itu merupakan perilaku. Karena sifat-sifat merefleksikan pola-pola yang dimiliki seseorang mengenai apa yang dipikirkannya atau dirasakannya termasuk perilaku, sifat-sifat tersebut dapat menjadi aspek-aspek yang dapat dijadikan pedoman untuk mengantisipasi perilaku yang diinginkan ke depannya. Lebih tepatnya, kepribadian adalah mengenai diri sendiri sedangkan perilaku adalah mengenai apa yang seseorang lakukan. Sifat-sifat kepribadian tidaklah dapat berubah dengan mudah. Meskipun begitu, seseorang dapat menyesuaikan dan mengubah perilakunya dalam batasan-batasan tertentu.

Perilaku yang ditunjukkan seseorang merupakan gabungan dari kepribadian dan kemampuan kognitifnya. Kemampuan kognitif membantu seseorang menyesuaikan kepribadiannya agar dapat memperlihatkan perilaku yang diinginkan. Tes Psikometri, pada akhirnya, memperlihatkan gabungan tersebut sehingga menghasilkan apa yang dinamakan kesesuaian atau kecocokan antara kandidat dengan jenis pekerjaan yang dilamarnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...