Indonesia Maju, Integrasi Wawasan Kependidikan, dan Entrepreneurship

0 Komentar

Oleh Husain Syam, Rektor Universitas Negeri Makassar

FAJAR.CO.ID– “Indonesia maju” menjadi tema yang dirilis pemerintah dan familiar di masyarakat sepanjang tahun ini. Konsep ini menjadi sebuah asa, bahwa kelak Indonesia sejajar dengan negara-negara terbaik di dunia. Hal ini bisa terwujud, karena potensi yang dimiliki juga sekaligus sebagai tantangan bagi Indonesia.

Sebagai negara terbesar keempat dari jumlah penduduknya, dengan proyeksi di tahun 2020 berjumlah 271 juta jiwa (bps.go.id). Di tahun 2030-2040 Indonesia akan mendapatkan bonus demografi sebesar 64% usia produktif dari jumlah penduduk. Potensi berikutnya sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Indonesia diharapkan mampu menyiapkan sumber daya manusia yang unggul agar dapat memaksimalkan potensi-potensi tersebut.

Untuk mengetahui apakah sebuah negara bisa bersaing dan masuk dalam negara maju. Beberapa indikator yang digunakan antara lain: human development index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM), Ease of Doing Business Index (Indeks Kemudahan Berinvestasi), dan the global entrepreneurship index (GEI) atau Indeks Kewirausahaan global.

Posisi Indonesia

Berdasarkan rilis UNDP (2018) HDI Indonesia menempati peringkat ke-116 dari 189 negara, turun satu peringkat dari tahun sebelumnya. Bila dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, yaitu: Singapura (1), Vietnam (48), Malaysia (55), Thailand (65), dan Philipina (84). Empat indikator yang menjadi acuan HDI yaitu: harapan hidup, standar hidup, melek huruf, dan pendidikan.

Dalam hal indeks kemudahan berinvestasi, Indonesia menempati peringkat ke-73 dari 190 Negara (Bank Dunia, 2019), turun satu peringkat pada tahun sebelumnya. Selanjutnya, indeks kewirausahan global menempatkan Indonesia di peringkat ke-94 dari 134 negara. GEI mengukur ekosistem berwirausaha sebuah negara meliputi perilaku, sumber daya, dan infrasturktur (Acs et al., 2018).

          Ketiga index tersebut menunjukkan posisi Indonesia, masih jauh tertinggal dari negara-negara lainnya. Indonesia harus berbenah untuk meningkatkan peringkat HDI pada faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Selain membenahi faktor ketertinggalan tersebut, diharapkan mampu melihat potensi lainnya yang dapat mendorong peningkatan daya saing bangsa.

Indonesia Maju

Daya saing bangsa ditentukan oleh kemampuan masyarakat untuk berkonstribusi memajukan negaranya, sehingga mampu berkompetisi dengan negara lainnya. World Bank (2005) merilis bahwa kemampuan berinovasi dan kreativitas (45%) menempati peringkat pertama, disusul oleh networking (25%), teknologi (20%), dan sumber daya alam (10%).

Akumulasi potensi pertama hingga ketiga berjumlah 90%, semuanya berasal dari sumber daya manusia. Indonesia harus bisa melihat potensi yang dimiliki, mengoptimalkannya hingga menjadi pembeda dengan negara lain, dan akhirnya dapat berkompetisi di dunia global.

Perguruan tinggi memegang peranan penting untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Proses pemelajaran di bangku kuliah dengan menyiapkan bekal pengetahuan dan keterampilan bagi mahasiswa yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Tidak hanya sekedar merespon link and match antara kebutuhan industri dan dunia pendidikan, namun juga alumni yang dihasilkan mampu menjawab tantangan saat mereka berproses, meninggalkan kampus, dan berkiprah di masyarakat. Esensinya, diharapkan menjadi manusia yang mampu beradaptasi terhadap perubahan.

Berwawasan Kependidikan & Entrepreneurship

Pendidikan menjadi hal yang penting untuk membangun sumber daya manusia, dengan Pendidikan akan melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, spiritual, berkarakter, dan memiliki keterampilan sebagai bekal meniti kehidupannya. Dengan kemampuan sebagai tenaga pendidik, seseorang akan mempunyai kompetensi bidang keahlian, pedagogik, dan budaya.

Selanjutnya, entrepreneurship (kewirausahaan) merupakan kemampuan seseorang untuk berpikir kreatif dan berperilaku inovatif sebagai sumber daya, tujuan, dan proses menghadapi tantangan hidup (Syam, 2019). Seorang entrepreneur tidak pernah puas dengan apa yang diraihnya, selalu berupaya menemukan inovasi untuk peningkatan kualitas produk yang ditawarkan.

Universitas Negeri Makassar (UNM) dengan visi sebagai pusat pendidikan, pengkajian, pengembangan pendidikan, sains, teknologi, dan seni berwawasan kependidikan dan kewirausahaan.

Integrasi wawasan kependidikan dan kewirausahaan mengantarkan pada terbentuknya insan yang mandiri dengan memiliki multiple intelegence and competence. Bukan saja siap bekerja untuk membangun bangsa, namun juga berkonstribusi untuk menciptakan lapangan kerja yang kompetitif.

Bila alumni memilih bekerja sebagai tenaga pendidik, akan senantiasa melakukan inovasi dalam peningkatan kualitas pemelajaran. Berimplikasi pada peningkatan kualitas peserta didik pada semua level pendidikan, sehingga terciptanya kualitas sumber daya manusia Indonesia yang unggul.

Alternatif berikutnya, pilihan bekerja di instansi atau industri. Mereka akan berkonstribusi menerapkan konsep intrapreneur, menjadi karyawan yang memiliki ide dan inovasi untuk pengembangan instansi/industri tempatnya bekerja.

Pilihan menjadi entrepreneur dengan merintis usaha, menciptakan lapangan kerja akan memberi konstribusi dalam pertumbuhan ekonomi.  Memberi stimulus hadirnya inovasi produk yang dibutuhkan konsumen baik dalam maupun luar negeri. Dengan bantuan jejaring dan penjualan online akan berpotensi menembus pasar dunia. Hal ini akan mendorong peningkatan rasio persentase jumlah wirausaha hingga mencapai 14%, sebagai syarat menjadi negara maju.

Semoga konsep integrasi ini akan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia, mengatasi masalah pengangguran, mendorong percepatan Indonesia maju, dan akhirnya meningkatkan posisi bangsa yang kita cintai ini di dunia global. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...