Disuntik Modal Tapi Merugi, Sri Mulyani Evaluasi 7 BUMN

Para BUMN yang merugi di 2018 itu pun tak mendapatkan jatah untuk PMN 2020. Terdapat 1 BUMN dan 1 khusus untuk penguatan neraca transaksi berjalanan.

Kesempatan yang sama, Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, selama empat tahun terakhir, pemerintah telah menggelontorkan modal sebesar Rp105,5 triliun ke BUMN.

Dari dana tersebut, ada dua perusahaan yang menyedot anggaran terbanyak, yaitu PT PLN (Persero) dan PT Hutama Karya (Persero). “Dari Rp 105,5 triliun tersebut, 50 persen lebih terserap di PLN dan Hutama Karya,” ujar Erick.

Rinciannya, PLN menyerap PMN sebesar Rp35,1 triliun atau 33 persen, sementara Hutama Karya menyerap Rp16,1 triliun atau 15 persen.

Wakil Menteri Keuangan, Suahasil Nazara menambahkan, BUMN yang merugi akan menjadi perhatian pemerintah. Pihaknya akan mencari penyebab apa saja BUMN bisa sampai merugi.

“Iya harus diperhatikan tata kelolanya, ruginya karena apa, seperti apa dia sudah menerima PMN, iya kan. Lalu apa yang sudah dikerjakan, lalu bagaimana kondisi keuangannya. Kami analisis lebih lanjut bersama Kementerian BUMN,” kata dia.

Terpisah, Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Nailul Huda mengatakan, memang sudah seharunya BUMN yang merugi harus dilakukan evaluasi secara menyeluruh.

Menurut Huda, 7 BUMN yang merugi karena pengelolaan manajemennya yang buruk sehingga bukannya untung justru merugi.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Hamsah umar


Comment

Loading...