Bisnis Narkoba di Sapiria, Kerajaan Borta Bangkit Lagi

0 Komentar

dok fajar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kerajaan Borta sempat mati suri. Raja, ratu, dan pangeran kerajaan narkoba itu tertangkap.

Kini, istana yang menjadi tempat transaksi narkotika itu hidup kembali. Penerus sindikat peredaran narkoba yang berada di Kampung Sapiria, Kelurahan Pannampu, Kecamatan Tallo, masih misterius. Pengganti Pangeran Borta, Nur Alam tidak membiarkan pelanggan melihat wajahnya.

Setiap pembelinya tidak dipersilakan masuk ke dalam istana. Hanya sampai di depan pintu pagar besinya saja. Melalui lubang kecil yang berada di pintu utama, setiap pembeli menerima sabu-sabu dari penerus pangeran.

Kasat Reserse Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Diari Astetika, mengungkap bangkitnya kembali Kerajaan Borta. Kata Diari, penerus kerajaan itu masih dalam penyelidikan.

“Padahal seluruh keluarganya sudah kita tangkap. Ternyata masih ada transaksi di sana. Kita masih penyelidikan, sepertinya pengedarnya sudah kabur lagi,” beber Diari, Rabu, 4 Desember.

Hidupnya kembali Kerajaan Borta diketahui setelah Tim Ubur-ubur Polrestabes Makassar membekuk Triadi Setia Budi, November lalu. Ia mengaku bahwa sabu-sabu yang hendak diedarkan dibeli di Istana Kerajaan Borta.

Dari pengakuan lelaki yang gagal menikah di hotel itulah, Satuan Reserse Narkoba Polrestabes Makassar melakukan penyelidikan di kerajaan narkoba yang berhasil ditumbangkan, Juli 2019.

Ketika itu bos pengedar narkoba yang juga sering disebut sebagai pangeran, beserta raja, ratu, dan 10 anggota keluarganya ditangkap. Total 13 orang tersangka.

Selain Kerajaan Borta, di Kampung Sapiria yang juga disebut sebagai kampung narkoba, diduga ada kerajaan keluarga lainnya yang juga berbisnis narkotika.

Ini berdasarkan keterangan Ernawati alias Erna (32) kepada penyidik Satres Narkoba Polrestabes Makassar.

Janda beranak tiga itu mengaku membeli sabu-sabu di Kampung Sapiria, tetapi bukan di Kerajaan Borta. Bisnis itu dilakukan dengan alasan membiayai sekolah ketiga anaknya. Sebab, jualan gorengan dianggap tidak cukup.

Saking tersembunyinya, Erna yang mengaku baru berjualan selama sebulan, menyembunyikan sabu-sabu miliknya di beberapa tempat yang sangat tersembunyi di lantai dua rumahnya yang berada di Jalan Kandea III, Kecamatan Bontoala.

“Kami menemukan satu sachet sabu-sabu di belakang foto keluarga dan 14 sachet di dalam dua bungkusan kopi yang disimpan di dalam saku sekolah anaknya,” kata Diari, kemarin.

Saat penggeledahan, Erna berusaha bersembunyi di dalam kamar mandi miliknya, Selasa, 3 Desember. “Kasus ini masih kita dalami. Yang jelas bukan di Kerajaan Borta membeli,” imbuhnya. (ans/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...