Iran Bertekad Lanjutkan Program Rudal Balistik

0 Komentar

Sebuah pajangan yang menampilkan rudal dan potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei

FAJAR.CO.ID, TEHERAN — Iran mengumumkan akan bertekad melanjutkan program rudal balistiknya. Sikap itu menjadi respons atas surat tiga negara eropa yang menuduh Teheran mengembangkan rudal dengan huku ledak nuklir.

Para duta besar Inggris, Jerman dan Perancis untuk Dewan Keamanan PBB, telah meminta Ketua PBB Antonio Guterres untuk menginformasikan kepada dewan bahwa program rudal Iran “tidak konsisten” dengan resolusi PBB yang mendukung kesepakatan nuklir yang dicapai pada 2015.

“Iran bertekad untuk melanjutkan dengan tegas kegiatannya yang berkaitan dengan rudal balistik dan kendaraan peluncuran ruang angkasa,” kata utusan PBB Iran Majid Takhte Ravanchi dalam sebuah surat kepada Guterres.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif mengecam intervensi kekuatan Eropa.

“Surat terbaru E3 kepada UNSG tentang rudal adalah kepalsuan yang menyedihkan untuk menutupi ketidakmampuan mereka yang menyedihkan dalam memenuhi kewajiban minimum #JCPOA,” tulis Zarif, menggunakan singkatan “E3” untuk tiga pihak Eropa dalam perjanjian nuklir, dan merujuk pada kesepakatan dengan akronim formal, Rencana Aksi Bersama Komprehensif.

Dia mendesak Inggris, Prancis dan Jerman untuk tidak tunduk pada “intimidasi AS”.

Surat itu muncul pada saat meningkatnya gesekan antara Iran dan Barat. Teheran mencabut komitmennya di bawah kesepakatan selangkah demi selangkah sebagai tanggapan atas penarikan Presiden AS Donald Trump dari pakta tahun lalu dan pengenaan sanksi “tekanan maksimum” untuk melumpuhkan ekonomi Iran.

“Kesepakatan nuklir 2015 tidak membahas program rudal balistik Iran,” Asead Baig dari Al Jazeera melaporkan dari Teheran.

Dewan Keamanan akan bertemu pada 20 Desember untuk menimbang kepatuhan Iran dengan resolusi yang dimaksud, dan surat Eropa “akan menambah diskusi itu”, seorang diplomat senior Eropa mengatakan kepada kantor berita Reuters.

Surat duta besar Eropa itu mengacu pada pada varian rudal balistik jarak menengah Shahab-3. “Penguat Shahab-3 yang digunakan dalam tes ini adalah sistem Rudal Teknologi Kontrol Rezim kategori-1, dan dengan demikian secara teknis mampu mengirimkan senjata nuklir,” tambah surat itu.

Beberapa negara di DK PBB, termasuk Rusia, yang dengan empat kekuatan dunia lainnya menggunakan hak veto, berpendapat bahwa bahasa tersebut tidak membuat ketentuan resolusi wajib. (fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...