Termos Bambu Asal Maros Menembus Jerman

Hasil karya KKT Anak Sungai di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros ini mampu memikat wisatawan lokal dan asing. (Arini/FAJAR)

Berawal dari keinginan mengurangi sampah plastik, termos bambu tercipta. Karya dari Desa Salenrang ini sangat
diminati warga dunia
.

Laporan: Arini

FAJAR.CO.ID, MAROS — BUKAN hanya termos. Beragam kerajinan dari bambu dibuat oleh tangantangan anggota Kelas Kerajinan Tangan (KKT) Anak Sungai di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros.
Sebut saja, sedotan atau pipet, asbak, penyaring kopi, toples, dan tempat tisu.

Ketua KKT Anak Sungai, Muhammad Ikhwan Dento memaparkan, kerajinan berbahan dasar bambu pada dasarnya cukup mudah dibuat.

“Kami memberdayakan potensi lokal yang ada dan tentunya berbahan ramah lingkungan. Kebetulan di desa kami cukup banyak bambu. Jadi kami berdayakan bambu sebagai bahan dasar kerajinan tangan yang dibuat,” ungkap Ikhwan yang ditemui penulis, baru-baru ini. Produk kerajinan bambu ini pun mudah ditemui. Ada banyak dijajakan di Kopi Rumah Kedua yang terletak di Dusun Rammang-rammang, Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa.

Untuk pemilihan bentuk produk, lanjut Ikhwan, dipilih berdasarkan alat-alat yang sangat sering dipakai sehari-hari.
“Kami sengaja membuat produk ini demi tujuan mengedukasi masyarakat agar mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Pria yang akrab disapa Iwan Dento ini menyebut, produk-produk yang dihasilkan dibanderol dengan harga bervariatif dan terjangkau. Mulai dari Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

“Untuk harganya bergantung pada proses pembuatan dari kerajinan tangan khas bambu ini. Semakin sulit dibuat maka pasti harganya semakin mahal,” jelas Iwan.

Untuk tiga buah pipet bambu dibanderol Rp10 ribu, termos seharga Rp150 ribu, saringan kopi berkisar Rp75 ribu hingga Rp100 ribu, tempat tisu bernilai Rp50 ribu, dan lampu tidur Rp100 ribu.

Diakui Iwan, produk mereka belum dipasarkan secara luas. Alasannya, mereka belum memproduksi secara besar-besaran. Meski stok terbatas, namun karya mereka sudah melanglang buana hingga ke Eropa dan Amerika.

“Biasa kita jual di pameran, atau di kedai kopi kami di Rumah Kedua. Kalau ada turis atau pengunjung lokal tertarik mereka bisa membeli di sana. Jumlahnya masih terbatas. Tetapi kalau ada konsumen yang ingin memesan khusus, kita akan buatkan sesuai dengan permintaan mereka,” ungkapnya.

Iwan memastikan, kerajinan bambu mereka cukup diminati wisatawan mancanegara. Mereka meminta untuk dikirim langsung. Di antaranya ke Amerika, Prancis, Belanda, dan Jerman.

“Ada juga yang dibeli langsung oleh turis yang berkunjung ke sini. Seperti bambu drip sudah ke Amerika, Jerman, dan Prancis. Kemudian termos bambu juga ada yang ke Jerman dan Belanda. Pipet ada yang ke Belanda juga,” bebernya.

Pihaknya tidak membedabedakan patokan harga untuk turis lokal dan mancanegara. Sebab mereka ada konsumen yang ingin membeli produk. Tentu tidak ada yang suka dibedakan.

Untuk saat ini, stok produk saringan kopi, termos, dan pipet, sudah disiapkan. “Rencananya, kita akan membuat warung suvenir khusus untuk memasarkan hasil kerajinan tangan Anak Sungai di Dermaga Dua,” kunci Iwan. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : rasid alfarizi

Comment

Loading...