Dana Koperasi Pasar Butung Rp85 Miliar Diduga Ditilep


Nurdin lanjutnya, tidak dibebankan untuk mengganti uang koperasi. Sebab terbukti, pegawai biasa tersebut hanya dimanfaatkan oleh Irsyad dalam proses pengambilan uang pembayaran listrik.

“Setiap bulan, pembayaran listrik hanya Rp30 juta. Tetapi, Nurdin diminta menagih listrik ke KSU Bina Duta sebanyak Rp100 juta dengan cara membuat kwitansi sendiri. Nah, kelebihan uang Rp70 juta itulah ditransfer secara tunai oleh Nurdin ke Irsyad Doloking,” jelasnya.

Anwar menyebut M Irsyad Doloking merupakan orang yang dituakan di Pasar Butung. Pengurus tidak berani menolak permintaannya.

“Secara lisan dia (M Irsyad) berkata kepada pengurus, mari mi itu uang saya kumpul. Nanti kemudian hari, SHU-nya nanti kita bagi setiap tahun. Saya membayar ke pemerintah kota dan PT Latunrung,” kata Anwar menirukan perkataan M Irysad sejak ada perjanjian kontrak antara PT Latunrung dengan Pemkot Makassar tahun 1998 silam.

Anwar menyebut Isryad telah melanggar komitmen itu. “Dia memperkaya sendiri. Bahkan mengkudeta saya dengan mengangkat anaknya (Andri Yusuf) sebagai ketua,” imbuhnya.

Karena itu Anwar melaporkan Irsyad ke Polda Sulsel, 16 Mei 2019 atas dugaan penggelapan dana koperasi sebesar Rp82 miliar. Tetapi, laporan itu dimentahkan penyidik Ditreskrimum Polda Sulsel dengan mengeluarkan A2 atau penghentian penyelidikan, 3 Oktober 2019.

Kuasa Hukum Anwar, Hari Ananda Gani sangat menyayangkan hal ini. Sebab, barang bukti berupa kwitansi pembayaran yang disetorkan dianggap tidak memenuhi syarat. Penyelidikan kasusnya dihentikan.

Komentar

Loading...