Padewakang Berlayar Tanpa Mesin dari Makassar ke Australia, Sebuah “Karya Seni” di Tengah Lautan

0 Komentar

Sebuah perahu tanpa mesin bersandar di Dermaga Poepsa, kawasan Pantai Losari, Makassar. Perahu itu berukuran 14,5×4,5 meter.

Beberapa orang tampak sibuk mengecek kelengkapan. Perahu ini merupakan jenis padewakang. Konstruksi penyusunan papan menggunakan pola tata talu.

Kayu jenis kofasa (bitti, bahasa bugis) disusun dengan rapi tanpa menggunakan paku. Ada dua tiang yang berdiri kokoh yang masing-masing memiliki layar berbentuk persegi empat yang memanjang.

Layar tradisional ini disebut layar tanja dan terbuat dari karoro. Masing-masing berukuran 12×6 meter untuk layar depan dan 6×3 meter untuk layar belakang. Dua layar ini diperoleh dari Polman, Sulawesi Barat.

Tipe perahu diarahkan dengan dua daun kemudi yang digantung di samping kiri-kanan bagian buritan. Di dalam perahu telah diisi dua truk batu sekitar 5 sampai 6 ton. Teknik itu dilakukan agar kapal tidak oleng saat berlayar.

Ada tiga tempat istirahat telah dibuat di dalam kamar yang berasal dari bambu. Atap kamar ditutup dengan daun rumbia. Sementara pembatas kamar dengan tempat kemudi hanya menggunakan gamacca.

Peneliti Maritim yang juga menjadi peserta rombongan tim pelayaran Ridwan Alimuddin menjelaskan, perahu padewakang ini akan digunakan dalam sebuah pelayaran bersejarah yang diberi nama tapak tilas perahu padewakang dari Makassar ke Australia.

VIDEO : Ilham Wasi / FAJAR

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Yusran

Comment

Loading...