Ajaran Aneh… Ramalkan Tsunami di Luwu, Pengikutnya Rela Jual Harta

0 Komentar

ILUSTRASI. (INT)

FAJAR.CO.ID, BELOPA — Ajaran sesat muncul di Desa Raja, Kecamatan Bua, Kabupaten Luwu. Ajaran sesat ini dinilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Luwu, telah ditambah-tambahkan oleh Adlan Ibrahim. MUI Kabupaten Luwu telaj mengeluarkan fatwa terkait pemahaman menyimpang yang disebarkan Adlan Ibrahim.

Berdasarkan Fatwa MUI Kabupaten Luwu, Nomor : 01/MUI-LW/XI/2019 tentang paham yang diajarkan Adlan Ibrahim, MUI menyatakan ajaran Adlan itu menyimpang dan menyesatkan.

Aliran yang diajarkan Adlan dinyatakan telah menyimpang dari ajaran Islam. Sebab, ajaran tersebut dinilai telah ditambah-tambah dan mengada-ada. Oleh karena itu, ajaran tersebut dianggap sesat dan menyesatkan.

Divisi Hukum MUI Kabupaten Luwu, Masdin, mengatakan, MUI Luwu, sudah menggelar rapat tertutup dengan melibatkan Adlan Ibrahim, pimpinan ajaran tersebut.

Pada pertemuan yang dihadiri Pemerintah Kabupaten Luwu, Kepolisian, TNI dan Kejaksaan, Adlan bersedia menghentikan ajarannya dan tidak lagi melakukan aktivitas seperti biasanya.

“Sudah dibuatkan surat pernyataan dan secara tidak langsung mengakui bahwa ajarannya itu menyimpang. Dari dasar inilah, MUI dan Pemerintah, untuk menindaklanjutinya,” kata Masdin, Selasa 10 Desember 2019.

Ada beberapa ajaran yang dianggap menyimpang, yaknai amalan cermin kebahagian, amalan pembaringan, ramalkan tsunami di Bua, Kabupaten Luwu, hingga menganggap salat tak penting, asalkan akhlak bagus.

Amalan cermin kebahagiaan itu dipercaya bisa melihat hakikat diri yang sebenarnya, dengan hanya berdiri di depan cermin.

Sedangkan amalan pembaringan, dipercaya dengan berzikir, pengikutnya bisa melihat surga dan neraka.

“Amalan pembaringan itu cukup dengan berzikir, bisa melihat surga dan neraka,” jelas Masdin.

Selain dua amalan itu, masih ada amalan lainnya yang diduga menyimpang. Adlan meramalkan akan terjadi tsunami setinggi gunung dan akan menenggelamkan Kecamatan Bua.

Ramalan itulah yang menjadi penyebab, sehingga banyak pengikutnya di Desa Raja, rela menjual harta bendanya, dan pindah ke Morowali Utara.

Juga, mereka percaya, bahwa salat itu tidak penting, asalkan akhlaknya bagus.

“Mereka juga menafsirkan ayat sesuai dengan hawa nafsunya,” jelasnya. (shd)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...