Menunggu Eksekusi Mati, Eks Pasukan Elite Sebut Bunuh Model Altantuya Atas Perintah Najib Razak


FAJAR.CO.ID, KUALA LUMPUR — Najib Razak, mantan Perdana Menteri (PM) Malaysia, kini makin tesudut. Tuduhan pembunuhan terhadap model Mongolia, Altantuya Shaariibuu, kian mengarah kepadanya.

Najib disebut sebagai sosok yang memberikan perintah pembunuhan terhadap Altantuya. Kesaksian itu dsiampaikan mantan polisi Malaysia, Azilah Hadri, yang merupakan salah satu eksekutor Altantuya pada 2006.

Pengakuan mengejutkan ini disampaikan Azilah dalam sebuah pernyataan tertulis di bawah sumpah atau statutory declaration (SD). Hal itu diajukan bersama permohonan ke Pengadilan Federal Malaysia untuk mengkaji vonis mati terhadapnya dan rekannya.

Memang, saat ini, Azilah telah divonis mati dan tengah menunggu eksekusi atas kasus pembunuhan itu. Dia merupakan mantan Kepala Inspektur dari pasukan elite unit aksi khusus atau (UTK) pada Kepolisian Malaysia.

Azilah diadili bersama seorang mantan polisi lainnya bernama Sirul Azhar Umar terkait pembunuhan Altantuya, yang dibunuh dan diledakkan jenazahnya hingga berkeping-keping pada 19 Oktober 2006. Saat itu, Najib diketahui menjabat sebagai Wakil PM Malaysia dan merangkap sebagai Menteri Pertahanan.

Dalam kesaksiannya, Azilah menyatakan bahwa Najib memerintahkan dirinya untuk ‘menembak mati’ Altantuya yang disebut sebagai ‘mata-mata asing yang berbahaya’ pada 17 Oktober 2006. Azilah mengakui dirinya bertemu dan mendapat perintah itu langsung dari Najib yang saat itu menjabat Wakil PM (DPM). Usai membunuh, Najib memberinya RM300 (atau setara Rp1.013.843).

“(Najib) menginstruksikan saya untuk melakukan operasi rahasia untuk menangkap dan menghancurkan mata-mata itu secara diam-diam dan menghancurkan jenazahnya dengan peledak,” kata Azilah dilansir The Star Online, Selasa, 17 Desember.

KONTEN BERSPONSOR

Komentar