AKM Penggantian UN Sudah Melalui Tahap Uji

Kamis, 19 Desember 2019 08:36

FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menegaskan, bahwa asesmen kompetensi minimum (AKM) yang akan digunakan mulai 2021 bukan coba-coba.

Kepala Bidang Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), Totok Suprayitno mengatakan, asesmen ini telah dirintis sejak awal dengan melakukan serangkaian kajian untuk AKM sebelum akhirnya ditetapkan sebagai pengganti ujian nasional (UN).

Menurutnya, sejak 2015 Kemdikbud melakukan uji coba kepada peserta didik kelas 2,4,6, 8, dan 10. Para siswa dipilih secara sampling melalui asesmen kompetensi siswa Indonesia (AKSI) untuk kemampuan matematika, sains, dan membaca.

“Pengganti UN ini sudah dirintis sejak awal. Kita sudah punya embrionya dan sudah mulai dilakukan uji coba. Jadi ini bukan coba-coba,” kata Totok, Rabu (18/12).

“Apakah akan menjamin, insyaallah lebih baik. Kami punya keyakinan, AKM yang mengarahkan pada penguasaan kompetensi bernalar sesuai kaidah-kaidah pendidikan,” imbuhnya.

Totok berpendapat, bahwa pendidikan tidak hanya menguasai mata pelajaran (mapel), tetapi juga melatih berpikir anak.

“Sayangnya, hal tersebut selama ini kurang dilakukan, padahal kajiannya sudah ada. Nantinya AKM ini merupakan alat refleksi bagi guru untuk mengetahui letak kekurangan saat mengajar,” tuturnya.

“Jadi, apabila guru melakukan perbaikan kompetensi, dasarnya ada. Misalnya, kemampuan peserta didik menggunakan konsep Matematika tentang konsep bilangan, ternyata kurang, maka guru dapat melakukan perbaikan,” tambahnya.

Komentar