Senat AS Dikuasai Republik, Donald Trump Bisa Lolos Pemakzulan

Kamis, 19 Desember 2019 15:21

FAJAR.CO.ID, WASHINGTON — House of Representatives (HoR) atau DPR Amerika Serikat resmi memakzulkan Presiden Donald Trump pada Rabu (18/12) atau Kamis (19/12) pagi WIB. Dalam voting, mayoritas anggota DPR AS yang memang didominasi oleh Partai Demokrat menyetujui pemakzulan Trump.

Sebanyak 435 anggota DPR AS yang didominasi Demokrat, mengikuti voting tersebut. Voting dilakukan dua kali yakni untuk dakwaan penyalahgunaan kekuasaan dan menghalangi Kongres. Dalam dakwaan penyalahgunaan kekuasaan, hasilnya 230 suara menyatakan Trump memang bersalah. Sedangkan 197 anggota DPR menolak dakwaan tersebut. Sebanyak 8 anggota DPR memilih abstain termasuk satu dari Partai Demokrat yakni Tulsi Gabbard.

Pada voting kedua untuk dakwaan menghalangi Kongres, sebanyak 229 anggota DPR menyatakan bahwa Trump memang bersalah. Sementara, hanya 198 suara yang menolak. Dengan hasil itu, disetujuinya dua dakwaan untuk pemakzulan, Trump resmi dimakzulkan. Dia menjadi Presiden AS ketiga dalam sejarah yang dimakzulkan oleh DPR AS.

Lantas, apakah setelah DPR AS resmi memakzulkan Trump maka dia akan lengser? Belum. Selanjutnya masih dilakukan sidang Senat AS. Dua dakwaan pemakzulan yang disetujui DPR AS dibawa ke Senat AS untuk disidangkan. Sidang Senat AS terkait pemakzulan Trump akan mulai digelar pada Januari 2020.

Dalam sidang Senat AS nanti, dibutuhkan sedikitnya dua pertiga suara dukungan dari Senat AS untuk memakzulkan Trump sepenuhnya alias melengserkan dari jabatannya sebagai Presiden AS. Kans Trump untuk lolos dari pemakzulan sepenuhnya atau lengser masih besar. Maklum saja, Senat AS kebalikan dengan DPR AS. Di DPR AS, Demokrat mendominasi. Sementara di Senat AS, Republik mendominasi. Seperti diketahui, Trump berasal dari Partai Republik. Berdasar itu, ada kemungkinan Trump akan lolos dari pelengseran.

Selain itu, dari sejarah AS, dua Presiden sebelumnya yang dimakzulkan DPR AS, semuanya selamat di Senat. Artinya, mereka tak dilengserkan dari jabatannya sebagai Presiden AS. Dua Presiden yang dimaksud adalah Andrew Johnson (1868) dan Bill Clinton (1998).

Komentar