10 Tahun, Masih Betah Tinggal Di Rumah Pohon

0 Komentar

Daeng Norma tetap memilih hidup di atas rumah pohon. Seorang diri dan tiada beban.

Laporan: Arini Nurul, Maros

Untuk bisa sampai ke rumah Daeng Norma, tak begitu sulit lagi. Tak seperti empat tahun lalu, saat penulis bertandang ke sana.

Pada 2015, untuk ke rumah itu, harus berjalan sekitar satu kilometer dan melewati sawah. Di usianya yang ke-50 tahun, Norma masih betah di rumah pohonnya itu. Sebuah rumah yang dibuatkan anak bungsunya, Kasmunsir (23).

Sekarang, ke rumah itu relatif lebih mudah. Sudah ada jalan beton dan pengerasan. Sehingga tak butuh waktu lama lagi untuk berjalan ke sana, cukup 500-an meter saja. Saluran irigasinya pun sudah lebih bersih dibanding yang lalu.

Masih sama dengan 2015 silam, Norma masih tetap ramah menyapa penulis. Bedanya, ia terlihat lebih tua kini.

“Naikki di atas, Bu. Di tempat kerjaka tadi na ada keponakanku panggilka. Nabilang ada tamuku,” ungkap Norma dengan dialek khas Makassar-nya saat FAJAR mengunjunginya, Kamis, 19 Desember.

Norma mengenakan busana ungu dipadukan celana panjang dan jilbab corak hitam. Diakuinya meski anak bungsunya sudah menikah, ia masih tetap memilih hidup seorang diri di atas rumah pohon itu.

Saat ini rumah pohonnya sedang direnovasi. Bagian dindingnya rusak diterpa badai. “Waktu kejadian, saya sedang pergi kerja. Pas pulang saya dapati dinding rumah pohon saya sudah jatuh ditiup angin,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Dia mengaku kondisi seperti ini sudah terjadi hampir sepekan. Sehingga dia harus mengungsi di rumah anaknya Kasmunsir. “Sudah hampir seminggu tidur saya tidak nyenyak, karena saya terbiasa tidur di atas rumah pohon,” katanya.

Norma lebih senang tinggal di rumah pohon ketimbang di rumah anaknya.

“Lebih enak kalau tinggal sendiri, tidak campur dengan anak. Karena anak juga sudah menikah, tidak enak menumpang. Jadi ya saya rasa lebih enak tidur di atas pohon karena tak ada beban dan sudah terbiasa,” imbuhnya.

Tiap tiga tahun, biasanya, rumah pohonnya itu direnovasi. Namun, karena keterbatasan biaya ia memilih untuk tak merenovasinya tahun ini, hingga datanglah angin kencang yang membuatnya rusak. “Ternyata memang tetap harus direnovasi karena roboh ditiup angin,” katanya.

Kini, ia menunggu anaknya, Kasmunsir, membenahi rumah pohonnya itu. Sebenarnya, dia punya tiga anak. Selain Kasmunsir, ada Indar Bumaya dan Johan Safir. Ketiganya sudah menikah. Kasmunsir bungsu. Tak ingin membebani anak, ia pun masih berusaha mencari nafkah untuk dirinya.

“Saya kerja di gudang penyortiran plastik. Seminggu saya kadang dapat Rp80 ribu sampai Rp100 ribu. Itu saya pakai untuk beli beras dan keperluan dapur lainnya,” akunya.

Bahkan kadang ia juga memulung untuk menemukan sampah plastik yang selanjutnya ia sortir. Jika hujan turun, biasanya ia menadah langsung air hujan dan itu digunakan untuk keperluannya di atas rumah.

Saat kemarau, Norma mengambil air di rumah anaknya. “Kalau air sama listrik menyambung dari bawah di rumah anak saya,” sambungnya.

Dia berharap proses renovasi rumah pohonnya bisa segera rampung. Agar ia bisa kembali tinggal di sana. “Semoga Kasmunsir (anaknya, red) bisa cepat kasi selesai jadi saya tinggal di atas lagi,” katanya.

Dahulu –Norma mengenang– ia tinggal di rumah panggung miliknya saat sang suami, Mustari, masih hidup. Namun sepeninggal suaminya pada 1998 lalu, Norma menjadi orang tua tunggal. Ia mengerjakan apa saja yang bisa menghasilkan uang untuk menghidupi ketiga putranya. Mulai dari bertani, menjual telur, kangkung, hingga beras.

Hidupnya juga mulai berubah setelah suami meninggal dan anak pertamanya menikah. Rumah kayu yang ia tinggali bersama suami dan anaknya dulu harus dia tinggalkan sehingga lahirlah rumah pohon.

“Tidak enak kalau harus mengganggu rumah tangga anak. Makanya saya lebih memilih tinggal di rumah pohon,” katanya.

Rumah pohon itu, diakuinya memang dibangun oleh anak bungsunya, Kasmunsir setelah kakaknya menikah. Dahulu rumah pohon itu dibangun Kasmunsir tahun 2010 lalu dengan menggunakan potongan-potongan kayu dan bambu serta seng bekas dari sekolahnya yang tak digunakan lagi.

“Bahannya kadang diambil dari sekolahnya kalau sekolahnya lagi diperbaiki dan ada seng bekas biasa dikasi oleh gurunya,” kenangnya.

Hingga akhirnya rumah pohon berukuran 4×4 meter itu rampung. Meski tanpa kamar, dia hidup berdua bersama anak bungsunya selama kurang lebih lima tahun.

Tak hanya digunakan tidur, di rumah pohon itu ia memasak dan melakukan aktivitas lainnya. Sekadar diketahui awalnya rumah pohon itu dibuat Kasmunsir sebagai tempat bermain saja 2008 lalu. Rumah itu tak memiliki atap dan ukurannya hanya satu meter saja.

Setelah sang ayah meninggal dan kakaknya menikah, pada 2010 Kasmunsir berinisiatif membutnya lebih besar untuk ibunya dijadikan rumah.

“Karena tak ada lahan saya membangun di atas pohon. Rumah itu saya bangun dari bambu dan papan bekas yang biasa saya dapat,” kata Kasmunsir.

Kasmunsir sendiri mengaku jika di rumah pohon lebih enak. “Kalau siang dingin dan kalau malam hangat dirasa. Jadi enak memang, baru tidak ada nyamuk,” katanya. (*/zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...