FGD Outlook Sulsel: Infrastruktur Rangsang Wisata

FAJAR.CO.ID,MAKASSAR–Sektor infrastruktur tetap digenjot Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah. Itu diharapkan bisa merangsang wisatawan berkunjung ke Sulsel.

Melihat kebijakan itu, Pemprov Sulsel dan Harian FAJAR pun menggelar diskusi “Pembangunan Infrastruktur untuk Kemajuan Ekonomi dan Sektor Pariwisata” di Baruga Karaeng Pattingaloang, Rumah Jabatan Gubernur Sulsel, Sabtu, 21 Desember, pukul 08.00–13.00 Wita.

Nurdin Abdullah sebagai pembicara utama. Selain itu, Kepala Bappeda Sulsel Rudy Djamaluddin, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) XIII Makassar Miftachur Munir, Ketua DPRD Sulsel Andi Ina Kartika Sari, Direktur/Kepala Grup Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Perwakilan Sulsel Endang Kurnia Saputra, dan Rektor Institut Bisnis dan Keuangan Nitro Prof Marsuki DEA, hadir.

Sektor pariwisata diandalkan untuk memacu ekonomi dan menggenjot pendapatan asli daerah (PAD). Secara nasional, ditargetkan ada 20 juta wisatawan mancanegara akan masuk pada 2020.

“Kita harap 10 persen dari target nasional ini bisa masuk ke Sulsel. Makanya kita harus menggenjot infrastruktur. Percuma destinasi dibenahi kalau aksesnya ke sana buruk. Makanya perlu sinergi,” ungkap Nurdin.

Konektivitas dan ketersediaan infrastruktur itu akan menopang pariwisata. Sehingga kata Nurdin, infrastruktur pendukung kini dipacu ke destinasi wisata andalan. Infrastruktur wisata di Toraja terus dipacu karena sudah menjadi destinasi wisata internasional.

“Seperti pembangunan Bandara Buntu Kunik di Toraja, kita bangun menjadi bandara internasional. Persoalan Toraja itu hanya soal akses saja. Orang semua mau ke Toraja. Cuma, itu, kalau ditempuh lewat darat dari Makassar habis waktu 8 jam. Pedestrian juga dibenahi sehingga menjadi kawasan ramah turis,” tuturnya.

Unggah Materi Focus Group Discussion di Sini

Selain itu, pihaknya juga menggenjot konektivitas antarwilayah. Pembangunan jalan baru Bua-Rantepao terus dipacu. Ini akan mempermudah akses petani dan wisatawan dari Luwu Raya ke Toraja.

“Turis kan ada opsi juga bisa ke Palopo menikmati pantai. Tidak hanya stay di Rantepao atau Makale. Ada jalur darat. Di Bua juga sudah ada bandara,” bebernya.

Nurdin juga menyebut akan menata kawasan wisata Tanjung Bira menjadi destinasi kelas dunia. Ada banyak spot wisata keren di sekitar pantai Tanjung Bira. Seperti Pantai Mandala Ria di Desa Ara yang menjadi pusat pembuatan pinisi. Di lokasi ini, pantainya landai dan berpasir putih memanjang.

“Ini sisa dipoles sedikit. Tahun ini Pemprov sudah memulai memperbaiki infrastruktur jalan. Kita akan buat jalan lingkar tembus ke Pantai Tanjung Bira,” ungkapnya.

Pihaknya juga berharap pusat atau Balai Jalan ikut berkontribusi. Dengan memperlebar jalan di kawasan Selatan ini. Khususnya menghubungkan Makassar dengan Bira.

“Jaraknya sebenarnya hanya 165 kilometer. Sayang harus ditempuh 6 jam karena kemacetan. Sudah harus diperlebar,” terangnya.

Pemprov menyiapkan anggaran besar untuk penataan kawasan wisata di pesisir Bulukumba. Nurdin mengaku pesona pantainya tak kalah dengan destinasi lain. Hanya memang infrastrukturnya tertinggal.

“Kita siapkan total Rp50 miliar. Kekurangannya selain jalan, tidak ada toilet. Bahkan air bersih pun sangat susah. Ini semua yang akan dibenahi secara bertahap. Apalagi sudah banyak jaringan hotel internasional tertarik seperti Hyatt dan Marriot,” terangnya.

Selain, itu, pihaknya juga menyiapkan bantuan moda transportasi untuk mendukung kawasan wisata. Ada 15 bus bantuan Kemenhub. Nurdin menyebut akan diserahkan ke daerah destinasi wisata. Bus ini akan jadi pendukung transportasi di kawasan wisata.

“Bus itu sudah ada yang punya. Bira dan Toraja. Kita juga sudah bayar pajaknya sebelum diserahkan,” bebernya.

Di jalur destinasi wisata juga perlu dibangun toilet berstandar internasional. Fasilitas ini juga penting selain fasilitas seperti restoran dan sebagainya. Toilet yang bersih dan berstandar internasional juga akan menarik wisatawan.

“Tamu atau turis kesulitan karena tak ada toilet berstandar. Selama ini ya sasarannya kalau buang hajat ke toilet di POM bensin atau singgah di masjid,” terangnya.

Kata Nurdin, jangan ragu untuk membenahi kawasan wisata. Pariwisata yang tumbuh punya multiplier effect karena semua sektor akan tumbuh. Kunjungan wisatawan akan memicu investasi. “Hotel menjadi penuh, restoran penuh, lapangan kerja tercipta dan sebagainya,” tukasnya.

Diakuinya, pemerintah lebih fokus mengembangkan Labuan Bajo di NTT dan Mandalika di NTB. Padahal Sulsel juga punya banyak destinasi potensial. Sehingga Nurdin mengaku akan melobi anggaran pusat.

“Selain Bira dan Toraja, kita ada danau-danau purba di Luwu Timur. Nah, pengembangan wisata memang perlu sinergi. Potensi wisata di 24 kabupaten/kota harus dimaksimalkan. Makanya Pemprov tahun depan mengucurkan bantuan keuangan daerah Rp500 miliar. Silakan kabupaten/kota manfaatkan,” tukasnya.

Menanggapi itu, Ketua Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (ASITA), Didi Leonardo Manaba, sangat mengapresiasi komitmen gubernur Sulsel untuk terus menjadikan infrastrusktur sebagai program prioritas.

Kepala Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sulsel, Bambang Kusmiarso, mengatakan, salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi karena infrastruktur.

Berlanjutnya stimulus fiskal pemerintah pada peningkatan infrastruktur di luar daerah, serta berlangsungnya beberapa proyek infrastruktur pemerintah yang ikut mendorong lapangan usaha konstruksi.(fik-mum/zuk)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Edy Arsyad

Comment

Loading...