Andi Debbie Terus Upayakan Kesejahteraan Guru Honorer di Sulsel

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Guru honorer masih menjadi problem sekarang ini. Di Sulawesi Selatan salah satunya. Anggota Komisi E DPRD Sulsel Andi Debbie Purnama Rusdin terus mengupayakan agar kesejahteraan mereka ditingkatkan.

Istri dari pengusaha sekaligus politisi Partai Golkar Rusdin Abdullah itu menegaskan agar persoalan kesejahteraan guru honorer diprioritaskan.

Salah satu upayanya, lanjut Debbie, dalam hal regulasi atau aturan mengenai kesejahteraan para pendidik utamanya guru honorer.

“Kami akan berjuang, agar tenaga pendidik khususnya guru honorer bisa mendapatkan penghasilan lebih manusiawi,” tegas Andi Debbie saat penyebarluasan Perda No 2 Tahun 2017 tentang Wajib Belajar Pendidikan Menengah di Hotel Ramayana di Jalan Gunung Bawakaraeng, Makassar, Senin, 23 Desember.

Ke depan Debbie akan berupaya semaksimal mungkin agar bisa mengawal agenda kesejahteraan guru honorer untuk menjadi skala prioritas.

“Kami sedih mendengar masih ada guru honorer yang berpenghasilan ratusan ribu rupiah sebulan, padagal idealnya minimal sama dengan UMR,” kata legislator yang terpilih dari Dapil Makassar A itu

Upaya lainnya, Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI) Muh Ramli Rahim dan Rektor Rektor Amkop Management & Business School Bahtiar Maddatuang ikut dihadirkan.

Keduanya setuju dengan niat mulia Andi Debbie Rusdin dalam hal perjuangkan kesejahteraan guru honorer di Sulsel.

“Pemprov harus berani menggelontorkan anggaran untuk menaikkan upah guru honorer. Apa yang dilakukan Bu Andi Debbie sudah sangat tepat,” kata Bahtiar Maddatuang.

“Karena guru adalah satu instrumen penting dalam pembelajaran di tingkat pendidikan menengah,” sambungnya lagi.

Sementara itu, Ramli Rahim juga memaparkan hasil kajiannya tentang kesejahteraan guru di beberapa provinsi. “Misalkan di Jakarta penghasilan guru honorer non PNS sudah menyentuh angka Rp4,2 juta. Kemudian di Kalimantan Selatan Rp2,7 juta. Beberapa pemprov setempat menyesuaikan dengan standar UMR,” ungkap Ramli Rahim.

Menurut Ramli, berdasar temuannya, masih ada guru honorer yang mendapatkan penghasilan jauh dibawah UMR. “Bahkan laporan dari anggota kami, ada guru honorer yang masih menerima gaji Rp500 ribu perbulan, itupun kadang dirapel per 6 bulan,” tambahnya.

Data yang diperoleh Ramli bahwa populasi guru honorer di Indonesia sekitar 52 persen jumlahnya.”kira-kira apa yang terjadi jika 52 persen tersebut mogok mengajar, maka berkabunglah dunia pendidikan. Apa yang diperjuangkan Bu Debbie harus mendapat respon positif dari Pemprov sebagai kuasa pengguna anggaran sepenuhnya,” tutupnya. (taq)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...