Mahasiswa S3 UGM Teliti Tradisi Massureq di Bone

Mahasiswi S3 Universitas Gadjah Mada (UGM), Uniawati (kerudung pink) saat melakukan tudang sipulung budaya di makam raja-raja Lamuru Jumat, 27 Desember. (FOTO: AGUNG PRAMONO/FAJAR)

FAJAR.CO.ID, WATAMPONE -- Mahasiswi S3 UGM tertarik meneliti tradisi massureq yang masih banyak dilakukan oleh warga Kecamatan Lamuru, Bone.

Tradisi ini merupakan tradisi mendendangkam atau melantunkan syair-syair (resitasi) pada pembacaan kitab kuno La Galigo atau Sureq Meong Mpalo Karellae. Massureq masih kerap dilakukan pada sejumlah upacara adat, seperti maddoja bine (menabur benih padi di sawah).

Mahasiswi S3 UGM, Uniawati mengakui bahwa, tradisi massureq ini belum ada yang meneliti secara mendalam. Umumnya itu kajian yang ada berkaitan dengan maddoja bine, tapi tidak secara serius apa arti dan maknanya.

"Ini yang penting harus diketahui arti dan maknanya," katanya saat melakukan Tudang Sipulubg Budaya di Kalokkoe, Makam Raja-raja Lamuru, Jumat (27/12/2019).

Kata dia, selama ini sudah mengkaji beberapa budaya di luar Sulsel. Namun, untuk massureq ini tertarik mengkajinya karena sudah jarang lagi dilakukan masyarakat. "Saya memang tertarik untuk mengkaji tradisi masyarakat di Lamuru. Dengan adanya penelitian ini kita berharap agar masyarakat menjadi paham," tambah alumni S2 Universitas Diponegoro, Semarang itu.

Berdasarkan banyak keterangan warga saat diskusi untuk memahami masureq sangat sulit. Ada banyak tekanan. Orang takut karena masih mengingat DI/TII. "Orang dibakar rumahnya kalau massureq. Jadi orang massureq secara sembunyi-sembunyi," kata salah seorang warga, Ulla.

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Nursam


Comment

Loading...