Demi Jalan Musik, Seniman Ini Pernah Terusir dari Rumah

0 Komentar

Erwin Sulaiman atau lebih akrab disapa Ical merupakan seniman musik etnik Bugis-Makassar. Karier musiknya berawal dari bergabungnya ia dalam Aims Band pada 1994. Pada tahun yang sama, pria kelahiran 1977 ini bergabung pada sebuah sanggar seni, Makassar Art. Kecapi adalah alat musik yang pertama kali dipelajarinya di sanggar seni tersebut.

Menurutnya kecapi mirip dengan gitar. Makassar Art berhasil menumbuhkan kecintaannya terhadap musik etnik Bugis-Makassar. Namun, keseriusan Ical dalam bermusik rupanya tidak mendapat dukungan dari orang tuanya. Citra “pemusik tidak punya masa depan” membuat orang tuanya bertindak tegas. Saat Ical pulang dan menemukan pakaiannya sudah berada di teras rumah, ia terpaksa meninggalkan rumahnya.

Hal ini tidak membuat pria tersebut patah semangat, melainkan makin serius menekuni musik dengan tekad akan membanggakan orang tuanya. Ia memutuskan pergi ke Kalaserena di Takalar selama setahun untuk belajar musik etnik, khususnya perkusi. Di desa tersebut, ia belajar tentang budaya dan nilai-nilai musik etnik. Saat kembali ke Makassar, berbekal ilmu yang diperolehnya selama di Kalaserena, ia berpartisipasi membantu perkembangan musik etnik di Makassar.

Pria berusia 42 tahun ini kemudian menjadi pelatih berbagai kegiatan kesenian di perguruan tinggi, seperti menjadi pelatih di UNHAS, UNM, IAIN dan UIM. Ia pun pernah menjadi pelatih untuk siswa SD dan SMP sebanyak seribu orang untuk acara F8 Makassar.

Sejumlah penghargaan telah banyak diraih seniman asli Bugis-Makassar ini. Seperti penghargaan pada kegiatan Gerakan Seniman Masuk Sekolah 2017, Konser Karawitan Muda Indonesia IX, dan Pesona Budaya Sulawesi Selatan. Sejauh ini ia telah menghasilkan beberapa lagu dan sedang merencanakan konser tunggalnya.

Video: Yusran / FAJAR

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID
Editor : Muhammad Yusran

Comment

Loading...