Curah Hujan Mencapai 377 Milimeter, Jauh di Atas Kategori Lebat

0 Komentar

TRANSPORTASI TERGANGGU: Foto udara kawsan Jatinegara terendam banjir, Rabu (1/1). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

FAJAR.CO.ID, JAKARTA– Banjir dan tanah longsor menjadi ”kado” awal tahun 2020 bagi warga DKI Jakarta, Bekasi, dan wilayah sekitarnya. Pada malam pergantian tahun, hujan deras tercurah tanpa henti hingga kemarin siang (1/1).

Banjir yang melanda kawasan Jabodetabek mengakibatkan 26 orang meninggal dunia. Angka tersebut masih bisa bertambah. Sebab, data korban meninggal yang berasal dari BNPB dan Kementerian Sosial (Kemensos) tersebut hanya sampai pukul 17.00 kemarin.

Padahal, hingga tadi malam banjir masih menggenangi sejumlah daerah.

BMKG mencatat, curah hujan ekstrem merata tumpah ke wilayah Jabodetabek. Kawasan Halim mencatatkan ”rekor” dengan curah hujan mencapai 377 milimeter. Jauh di atas kategori hujan lebat yang berkisar 50 hingga 100 milimeter. Kanal dan jaringan sungai besar di Jakarta seperti DAS Kali Krukut, Ciliwung, Cakung, dan Sungai Sunter meluap sejak dini hari. Air mulai meninggi di Bendung Katulampa, Pintu Air Manggarai, Karet, dan Pesanggrahan sejak pukul 03.00 WIB. Pada pukul 04.00 tinggi muka air di Pintu Air Manggarai, Karet, Pesanggrahan, Pasar Ikan, Sunter Hulu, dan Pulo Gadung telah menyentuh siaga III dan II.

Luapan Kali Pesanggrahan menggenangi permukiman warga di Jakarta bagian barat. Beberapa underpass di bawah tol JORR tenggelam dan tidak bisa dilewati kendaraan. Warga harus hati-hati menyeberangi jembatan yang melintasi Kali Pesanggrahan karena air sungai mengalir hingga ke atas jembatan.

Pada pagi harinya air mulai melumpuhkan jalan-jalan arteri Jakarta. Kawasan persimpangan di dekat Universitas Tarumanagara dan Universitas Trisakti terendam banjir. Praktis memutus akses menuju Bandara Soekarno-Hatta. Underpass lain seperti Mampang dan Cawang tidak bisa dilalui kendaraan, kecuali kendaraan besar.

Air juga merendam sebagian lajur Jalan Daan Mogot maupun tol Jakarta–Tangerang. Memicu antrean panjang kendaraan. Selain itu, kawasan Bidara Cina, Kampung Melayu, Pulomas, Cipinang, Kelapa Gading, Lapangan Golf Pangkalan Jati, Setu Babakan, serta beberapa wilayah di bantaran Sungai Ciliwung juga terendam.

Berdasar data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta, ada 13 kelurahan di Jakarta yang terdampak banjir pada Rabu (1/1). Jumlah tersebut bisa meningkat. Sebelumnya hanya delapan dari lima wilayah ibu kota, yakni Jakarta Selatan, Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat, yang terendam.

Kepala Pusat Data Informasi dan Kebencanaan BPBD DKI Muhammad Ridwan mengungkapkan, pihaknya terus memperbarui data wilayah terdampak banjir di Jakarta. Misalnya, di Jakarta Selatan, pada 31 Desember 2019, hanya satu wilayah yang tergenang. Namun kemarin sudah bertambah menjadi tiga kelurahan, yakni Manggarai Selatan, Petogogan, dan Cilandak Timur.

Ridwan menjelaskan, di Petogogan, genangan air mencapai 150 sentimeter. ”BPBD DKI telah menyiapkan evakuasi warga di sana,” katanya kemarin. Begitu pula halnya di wilayah lain. Di Jakarta Timur, ada delapan kelurahan yang terendam. Yakni Cipinang Melayu, Pinang Ranti, Halim Perdanakusuma, Kampung Melayu, Makasar, Cawang, Kramatjati, dan Pondok Bambu. ”Tinggi air bervariasi, dari 10 sentimeter sampai lebih 1 meter,” katanya. Catatan terbaru, tinggi genangan di sebagian wilayah Halim Perdanakusuma, Cawang, dan Pondok Bambu 100–200 sentimeter.

Banjir yang begitu tinggi bahkan menghanyutkan mobil-mobil yang terparkir. Beberapa pul taksi Bluebird dilaporkan tenggelam. Kendati demikian, pihak Bluebird belum bisa menyebutkan angka pasti kerugian. ”Kami saat ini fokus melakukan evakuasi dan pendataan terhadap unit operasional yang terdampak banjir,” ujar Direktur Marketing PT Blue Bird Tbk Amelia Nasution kemarin.

Sekitar pukul 06.00, Bandara Internasional Halim Perdanakusuma tutup. Banjir setinggi 30 sentimeter menutup landasan pacu. Bandara baru dibuka hampir sembilan jam kemudian, yakni pada pukul 14.30. ”Selanjutnya akan dievaluasi lagi bila kondisi runway dapat dioperasikan kembali,” kata Dirjen Perhubungan Udara Kemenhub Polana B. Pramesti. Dengan lebar runway 30 meter, pesawat yang dapat dioperasikan sementara adalah jenis A320 dan Boeing 737.

Banjir yang menggenangi landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, berdampak pada penerbangan dari Surabaya. Bandara Internasional Juanda, Surabaya, mencatat ada 9 penerbangan dengan rute keberangkatan SUB (Surabaya)–HLP (Halim) yang terganggu. Perinciannya, 5 penerbangan maskapai Citilink dan 4 penerbangan dengan maskapai Batik Air. Jadwal penerbangan pertama rute Juanda–Halim dengan maskapai Citilink pada pukul 5 pagi bahkan telanjur terbang sebelum mendapat kabar bahwa Bandara Halim ditutup.

”Pesawat sudah take off. Akhirnya mesti divert atau mengalihkan pendaratan ke Cengkareng,” terang Communication and Legal Manager Bandara Internasional Juanda Yuristo Ardhi kemarin (1/1). Pesawat yang awalnya direncanakan mendarat di Halim pun akhirnya landing di Bandara Soekarno-Hatta.

Yuristo menjelaskan, dalam situasi itu, pihak Bandara Juanda melakukan langkah mitigasi. Salah satunya, memastikan ketersediaan ruang tunggu penumpang. Sebab, beberapa jadwal keberangkatan yang tertunda membuat penumpang memerlukan ruang tunggu lebih banyak.

Pihaknya juga terus memonitor status penerbangan dari Halim. Juga, saling meng-update informasi dengan pihak Bandara Halim melalui apron movement control (AMC). Pihak maskapai pun getol diajak berkoordinasi. ”Terutama koordinasi operasional yang berkaitan dengan status penerbangan. Mau tetap lanjut, delayed, atau cancel. Diatur supaya proses itu berjalan tertib dan baik,” tuturnya.

Berdasar pantauan kemarin, mayoritas maskapai penerbangan Juanda–Halim memberlakukan re-rute. Alias memindahkan atau mengalihkan pendaratan ke Bandara Soekarno-Hatta. Namun, beberapa penumpang yang tidak mau delayed dan menunggu memilih refund. Mereka mencari penerbangan lain setelah uang pembelian tiket dikembalikan pihak maskapai.

Namun, sebagian lainnya rela menunggu. Wika Reswati salah satunya. Perempuan yang menghabiskan liburan Natal dan tahun baru di Surabaya sejak 26 Desember 2019 itu mesti kembali bekerja hari ini. Kemarin pagi dia baru mengetahui info bahwa Bandara Halim kebanjiran. Namun, dia tetap berangkat ke Juanda dengan tiket pesawat yang sudah dibelinya dua pekan lalu. ”Sampai Juanda dikasih tahu kalau Halim ternyata ditutup,” ujarnya.

Awalnya, maskapai penerbangan Wika mengumumkan bahwa rute keberangkatan pukul 15.05 di-cancel dan baru bisa terbang hari ini. Namun, tak lama berselang, pihak maskapai mengumumkan bahwa penumpang tujuan Halim dialihkan ke Bandara Soekarno-Hatta pukul 16.15 atau delayed sekitar sejam. ”Sebetulnya lebih dekat dari Halim karena rumah saya Cibubur. Tapi, nggak apa-apa, sabar aja yang penting selamat. Mengalihkan rute gini kan pasti nggak mudah. Karena lalu lintas udara di Bandara Soekarno-Hatta juga pasti padat,” katanya.

Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsekal Pertama TNI Fajar Adriyanto menyatakan, penerbangan militer juga terdampak banjir. ”Semua penerbangan. Nggak peduli militer, sipil. Sama semua,” kata Fajar. Dia mengakui, selama ini Bandara Internasional Halim Perdanakusuma maupun Lanud Halim Perdanakusuma tidak pernah terdampak banjir.

Perjalanan kereta jarak jauh, KA bandara, dan KRL terpaksa molor atau dibatalkan. Untuk KA jarak jauh, keterlambatan pemberangkatan bervariasi, mulai 15 menit sampai 160 menit. Beberapa stasiun KRL tidak bisa melayani penumpang karena jalur terendam air. Termasuk Stasiun Tanah Abang. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...