Rokok Naik, Waspadai Produk Ilegal

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR— Tahun ini harga rokok resmi naik. Kenaikan ini dikhawatirkan akan memicu maraknya produk rokok ilegal.

Kenaikan harga rokok ini seiring penetapan kebijakan kenaikan tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT) atau cukai rokok sebesar 23 persen dan harga jual eceran (HJE) sebesar 35 persen. Mulai berlaku 1 Januari 2020.

Ketua Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Budiyono, menilai, kenaikan cukai rokok ini sangat memberatkan petani tembakau, karena kenaikannya terlalu tinggi. Justru dengan kenaikan yang sangat tinggi ini, menurutnya akan memicu maraknya rokok ilegal.

“Kita ketahui Indonesia ini sangat luas, banyak laut, pantai. Hal ini bisa meningkatkan peredaran rokok tanpa cukai,” katanya, Kamis, 2 Januari.

Budiyono menjelaskan, kondisi ini tidak bisa dipungkiri. Terutama bagi kalangan menengah ke bawah yang tidak mampu menjangkau harga rokok sesuai koceknya.

“Ketika tidak bisa mendapatkan harga yang ada, maka akan pindah ke yang lebih murah. Meskipun itu risikonya ilegal,” bebernya.

Selain akan maraknya peredaran rokok ilegal, Budiyono menilai, kenaikan ini sangat memukul pengusaha rokok dan pekerjanya. Terutama kretek tangan yang banyak menyerap tenaga kerja. Pemutusan hubungan kerja ke depanpun akan sulit dihindari.

Kepala Seksi Perizinan dan Fasilitas II, Kanwil Bea Cukai Sulbagsel, Tommy Prasetyo Utomo berkomitmen, akan memberantas peredaran rokok ilegal. Ia mengaku akan memperketat lagi pemeriksaan.

Justru menurut Tommy kenaikan cukai rokok ini, sangat positif untuk menekan konsumsinya yang marak di anak-anak. “Kenaikan cukai rokok ini berdasarkan tiga pertimbangan. Yakni untuk mengurangi konsumsi, mengatur industrinya, dan meningkatkan penerimaan negara,” jelas Tommy.

Kepala BPS Sulsel, Yos Rusdiansyah menilai, naiknya harga rokok akan mendongkrak garis kemiskinan. Sementara pendapatan masyarakat tidak banyak berubah, khususnya Sulsel.

“Tapi dampaknya berapa besar, tergantung dari generatif income masing-masing masyarakat. Mudah-mudahan bisa mengimbangi,” ujar Yos.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel, rokok kretek-filter menjadi kontributor terbesar kedua setelah beras terhadap garis kemiskinan. Kontribusinya di rumah tangga miskin adalah 14,48 persen di perkotaan dan 15,56 persen di pedesaan.

Makanya, untuk hal ini mesti ada solusi agar terjadi keseimbangan baru. Misalnya pendapatan masyarakat meningkat yang juga akan membuat konsumsi rokok juga ikut meningkat.

Selain itu, kenaikan harga ini juga akan memicu inflasi. Namun akan berlangsung selama periode tertentu saja.

“Inflasinya tidak akan berkepanjangan. Hanya di awal saja. Efek masyarakat terkejut hingga beberapa waktu. Setelah itu akan kembali lagi pada keseimbangan yang baru,” katanya. (tam-mum/iad)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...