Infografis

Bili-bili Masih Aman

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Meski naik, tinggi muka air (TMA) Bendungan Bili-bili masih di bawah ambang normal. Tak perlu terlalu waswas.

MEMANG, hujan terus mengguyur Sulsel tiga hari terakhir. Bahkan diprediksi hingga seminggu. Situasi ini membuat TMA Bendungan Bili-bili sedikit naik. Namun, jangankan status waspada, status ambang normal pun belum sampai.

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang (BBWSPJ) Suparji mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan volume dan ketinggian air. Sejauh ini, masih di bawah normal. Sehari sebelumnya, TMA masih di level 79,5 meter elevasinya.

“Pantauan kami per pukul 17.00 Wita, tingginya 80,39 meter. Itu masih jauh di bawah ambang normal 99,5 meter,” ungkap Suparji kepada FAJAR, Jumat, 3 Januari.

Pihaknya pun meminta masyarakat agar tenang dan tidak panik. Balai juga terus berkomunikasi dengan pihak BMKG. Terutama terkait prediksi cuaca dan curah hujan ke depan.

“Kekuatan bendungan Bili-bili juga dijamin aman. Tidak perlu khawatir dan jangan percaya berita tidak benar,” jelasnya.

Terdapat empat tingkatan status dari elevasi bendungan. Untuk status Normal pada TMA +99,50 meter, kemudian status Waspada +100 meter, status Siaga +101,60 meter, dan status Awas +103 meter.

“Sesuai SOP, tentu pada ketinggian tertentu pintu air akan dibuka nanti. Ini untuk mengurangi tekanan air pada bendungan,” bebernya.

Sedimentasi Parah

Diakuinya, saat ini Bendungan Bili-bili juga terancam dengan laju sedimentasi akibat kerusakan lingkungan. Ada pendangkalan. Ini perlu perhatian semua pihak terkait. Sulit bila hanya mengandalkan pengerukan atau normalisasi.

“Butuh penanganan secara kompleks. Termasuk instansi-instansi bidang kehutanan untuk menjaga lingkungan di hulu,” terang Suparji.

Sebenarnya, untuk pengendali banjir, pihaknya sudah membangun kolam regulasi Nipa-nipa. Proyek ini mengurangi area genangan air daerah terdampak banjir seluas kurang lebih 3.000 hektare berada di kawasan Kota Makassar, yakni di Kecamatan Tallo dan Tamalanrea serta Antang.

“Setidaknya akan mengurangi 30 hingga 40 persen banjir di Makassar. Terutama di wilayah BTP dan sekitarnya. Bendungan Jenelata yang juga akan membendung Sungai Jeneberang diharap jadi back up Bili-bili. Sudah tahapan penetapan lokasi, kita harap konstruksi fisiknya bisa segera berjalan,” bebernya.

Reboisasi

Terpisah, Plt Kadis Kehutanan Sulsel, Faisal menambahkan upaya penanganan lahan kritis di daerah aliran sungai (DAS) Jeneberang bertahap dilakukan. Reboisasi sudah dilakukan di sekitar DAS.

“Kita ajak mahasiswa. Ada bantuan bibit dari Kementerian LHK. Selain itu, juga ada penanganan dari Balai Pengelola DAS dan Hutan Lindung (BPDASHL) Jeneberang sejak tahun lalu,” jelasnya.

Sesuai rapat kordinasi, tahun ini juga ada penanganan 5.000 hektare termasuk DAS Jeneberang. Ditambah ada DAK untuk 700 hektare juga termasuk DAS Jeneberang. Juga ada bantuan dari pihak swasta.

“BPDASHL akan fokus penanganan daerah tengah DAS. Sementara kami Dishut akan fokus di wilayah hilir untuk hutan rakyat. Hulu akan akan ditanami PT Vale,” terangnya.

Kata dia, kerusakan lingkungan juga disebabkan adanya aksi perambahan. Ada kebakaran hutan dan lahan. Tanaman jagung juga masuk kawasan hutan. Ini tentu membuat laju sedimentasi makin kencang ke Jeneberang.

“Kami sudah intensifkan patroli polisi hutan. Termasuk melakukan penyuluhan. Masyarakat sudah rasakan tahun lalu imbas kerusakan lingkungan sehingga sangat antusias menanam pohon. Kita juga bagikan tanaman produktif seperti rambutan, mangga, durian dan sebagainya,” tuturnya.

Penanganan DAS Jeneberang disebutnya memang masih butuh waktu. Termasuk mengajak masyarakat umum untuk terlibat. Seperti di lereng-lereng sungai tetap harus ditanami pohon keras.

“Nanti di sela-selanya baru ditanami jagung. Agar pohon ini fungsinya menahan erosi. Air hujan juga tidak langsung melimpas membawa material sedimen tetapi diserap,” jelasnya.

Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem mulai melanda Sulawesi Selatan, puting beliung sudah terjadi di Kabupaten Sidrap dan longsor di Kabupaten Tana Toraja. Beruntung tidak ada korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Sulsel, Syamsibar mengatakan pihaknya sejak Oktober 2019 lalu, sudah melakukan antisipasi bencana yang rawan terjadi di Sulsel seperti puting beliung, banjir dan tanah longsor.

Bahkan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah sudah mengeluarkan surat imbauan kepada kabupaten/kota, untuk selalu siaga bencana, utamanya pada musim hujan. Pihaknya sudah menggelar kordinasi dan kabupaten/kota.

“Ternyata cuaca ekstrem bergeser, baru terjadi awal tahun ini. Sehingga pada 20 Januari nanti, kita akan menggelar simulasi penanggulangan bencana di Kabupaten Gowa, bekerja sama dengan JICA (Japan International Cooperation Agency),” ungkap Syamsibar.

Langkah-langkah antisipasi lain yang dilakukan, juga dengan berkoodinasi dengan semua stakeholder termasuk TNI dan Polri. “Warga juga diminta proaktif melaporkan jika melihat gejala atau tanda bencana yang akan hadir,” lanjutnya.

Dana Rp20 M

Sementara, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah mengatakan terkait kondisi cuaca yang ekstrem sekarang ini, koordinasi dengan kabupaten/kota terus jalan, dan hampir rata memberikan laporan. Untuk anggaran tanggap darurat pada 2020 ini, Pemprov Sulsel menyiapkan anggaran sebesar Rp20 miliar. Nilai tersebut sama dengan tahun sebelumnya.

“Kalau kurang bisa ditambah. Kita lihat situasi nanti,” tuturnya.

Nurdin juga mengimbau masyarakat Sulsel agar lebih cermat melihat perubahan alam, apalagi di musim hujan saat ini. Khusus untuk masyarakat yang berada di perkotaan, Nurdin mengimbau untuk segera bergotong royong membersihkan drainase agar tidak terjadi sumbatan air saat curah hujan tinggi.

“Bagi yang berada di kota yang memang sudah menjadi langganan banjir, upayakan saluran-saluran itu kita bersama-sama bergotong royong membersihkan saluran kita supaya airnya lancar,” katanya.

Menurut mantan Bupati Bantaeng dua periode ini, tersumbatnya drainase di perkotaan menjadi salah satu pemicu meluapnya genangan air. Bayangkan kalau ada sumbatan, hujan sedikit saja akan memicu genangan bahkan banjir karena saluran tidak berfungsi baik. Juga BPBD di seluruh daerah diharap agar siap siaga.

“Peran Camat, Lurah dan Kepala Desa juga sangat penting untuk mengajak masyarakat antisipasi sebelum hal ini terjadi. Misalnya ada gerakan masyarakat untuk memperbaiki saluran air dan drainase-drainase supaya banjir bisa kita hindari,” pungkasnya. (fik/abg-zuk)

Comment

Loading...