Bili-bili Masih Aman

  • Bagikan

“BPDASHL akan fokus penanganan daerah tengah DAS. Sementara kami Dishut akan fokus di wilayah hilir untuk hutan rakyat. Hulu akan akan ditanami PT Vale,” terangnya.

Kata dia, kerusakan lingkungan juga disebabkan adanya aksi perambahan. Ada kebakaran hutan dan lahan. Tanaman jagung juga masuk kawasan hutan. Ini tentu membuat laju sedimentasi makin kencang ke Jeneberang.

“Kami sudah intensifkan patroli polisi hutan. Termasuk melakukan penyuluhan. Masyarakat sudah rasakan tahun lalu imbas kerusakan lingkungan sehingga sangat antusias menanam pohon. Kita juga bagikan tanaman produktif seperti rambutan, mangga, durian dan sebagainya,” tuturnya.

Penanganan DAS Jeneberang disebutnya memang masih butuh waktu. Termasuk mengajak masyarakat umum untuk terlibat. Seperti di lereng-lereng sungai tetap harus ditanami pohon keras.

“Nanti di sela-selanya baru ditanami jagung. Agar pohon ini fungsinya menahan erosi. Air hujan juga tidak langsung melimpas membawa material sedimen tetapi diserap,” jelasnya.

Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem mulai melanda Sulawesi Selatan, puting beliung sudah terjadi di Kabupaten Sidrap dan longsor di Kabupaten Tana Toraja. Beruntung tidak ada korban jiwa.

Kepala Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Sulsel, Syamsibar mengatakan pihaknya sejak Oktober 2019 lalu, sudah melakukan antisipasi bencana yang rawan terjadi di Sulsel seperti puting beliung, banjir dan tanah longsor.

Bahkan Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah sudah mengeluarkan surat imbauan kepada kabupaten/kota, untuk selalu siaga bencana, utamanya pada musim hujan. Pihaknya sudah menggelar kordinasi dan kabupaten/kota.

  • Bagikan