Telanjur Cinta, Suami Rela Jadi Korban KDRT Sang Istri

0 Komentar

Ilustrasi Iso Ae (GRAFIS: FAJAR KRISNA)

Selama ini, pelaku kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) biasanya laki-laki. Tapi jangan salah, perempuan juga bisa. Kan, zamannya emansipasi. Eh!

Ismaul Choiriyah

Demi cinta, seorang pria gagah pun rela disiksa. Tidak semua sih, hanya yang bucin alias butuh cinta saja. Termasuk Donwori, 35, ini. Yang sanggup dipukul sapu oleh Karin, 25, istrinya, asal tidak diceraikan saja.

“Gak lanang gak wedok podo gendenge, Donwori sisan wes diperlakukan koyo babu, pancet ae cinta. Koyok cinta garai wareg ae,” gerutu Mira, tante Donwori di Pengadilan Agama (PA) Klas 1A Surabaya, awal pekan lalu.

Mira kala itu sedang mengambilkan surat akta cerai kepunyaan Donwori. Karena Donwori merantau, dia dimintai tolong untuk mengambil. Ikhlas sih ikhlas. Namun tampaknya ia masih belum ikhlas dengan perlakuan Karin pada keponakannya.

Mira mengaku, ia adalah kerabat Donwori yang tersisa satu-satunya. Tinggalnya tepat di depan rumah pasutri itu. Karena dekat itulah, dia tahu duduk permasalahannya. “Karin ki wedok tapi wani ambek bojone dewe. Duh yaopo ya istilahe. Gak nduwe hormat blas,” cerita Mira.

Mira mengatakan, Karin yang teriak-teriak ke Donwori adalah musik yang ia dengar setiap hari. Tak peduli subuh maupun petang. Bahkan tak jarang, Mira mendengar bunyi piring dipecahkan. Atau Donwori yang mengadu kesakitan karena dicium sapu yang diayunkan Karin.

Meski risih, selama ini Mira hanya diam saja. Ia takut terlalu ikut campur. Namun, ia sendiri biasanya langsung tahu keadaan keponakannya, karena setiap setelah disiksa, Donwori pasti rokokan ke rumah bibinya ini. “Masalahe opo maneh lek gak duwit. Karepe kurang blonjone, terus ngamuk-ngamuk,” lanjut Mira.

Tak hanya masalah uang. Masalah kecil saja jadi besar kalau dengan Karin. Misal telat menjemput Karin kerja saja. Atau tidak sengaja menyandung stop kontak, Karin bisa membodoh-bodohkan Donwori tiga hari tiga malam.

Sebagai kerabat, tentu Mira merasa iba. Ia ingin keponakannya ini menceraikan Karin saja. Daripada jadi suami tapi bulan-bulanan istri. Namun saran itu tidak pernah ia sampaikan, karena percuma, Mira sudah tahu persis akan ditolak usulannya. Ia hanya ngempet, dan geregetan. Tapi sikap itu juga tak berani ia tampakkan. Karena pernah, sekali ia tampakkan, lagi-lagi Donwori yang jadi korban amukan Karin. Yang merasa tak diterima di keluarga besarnya.

KDRT ini terjadi, tak lain karena Donwori yang bucin. Dia terlalu mencintai Karin, bahkan sejak awal menikah. Sementara Mira yakin, Karin tidak begitu sreg. Makanya mau-mau saja di-KDRT sekalipun. “Padahal, Karin ki terkenal nakal (sebelum menikah). Tapi Donwori opo kenek dikandani. Ngengkel ae jare gak gelem rabi lek ra ambek Karin,” keluhnya lagi.

Lalu bagaimana akhirnya bisa bercerai? Simpel. Karin sendiri yang buat gara-gara. Tanpa diminta Karin mengajukan gugatan. Alasan yang disampaikan karena ia sudah tidak cinta lagi dengan Donwori. Padahal Mira tahu, Karin sudah punya teman kencan baru.

Meski awalnya Donwori tak terima, lambat laun ia pasrah dengan nasib. Mau bagaimana lagi, bahkan Karin sudah memboyong barang-barangnya. Dilakukan bebas saja tanpa beban. Kan selama ini memang dominan. “Loalah Le…. Asline kon iku gak elek nemen, yo sayang ambek keluarga, tapi nasibmu kok ngene,” pungkas Mira, sedih. (JPC)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...