Natuna

0 Komentar

FAJAR.CO.ID — Sampai hari Minggu kemarin — kapal-kapal nelayan China dengan dikawal kapal penjaga pantai dan kapal pengawas perikanan China. Semua kapal-kapal asing tersebut bersikukuh melakukan penangkapan ikan yang berjarak sekitar 130 mil dari perairan Ranai Natuna Indonesia. Pengusiran dan peringatan sudah diberikan pihak Bakamla Indonesia sejak beberapa hari lalu.

TNI sendiri sudah melakukan gelar operasi dengan menurunkan dua unsur KRI guna mengusir kapal asing tersebut keluar dari Laut Natuna.

TNI mengumumkan tidak memiliki batas waktu sampai kapal China betul-betul angkat kaki dari wilayah maritim Indonesia. Hari Senin ini pihak TNI akan menggerakkan 4 unsur KRI lagi  untuk mengusir kapal-kapal itu. Pihak TNI sendiri menyatakan sampai Minggu kemarin tindakan yang dilakukan TNI masih bersifat persuasif dengan memperingati kapal China bahwa mereka sudah menerobos sekaligus menangkap ikan secara ilegal di Laut Natuna milik Indonesia.

**

Kita semua membaca dan mendengarkan pernyataan resmi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang membantah semua klaim Tiongkok soal kepemilikan wilayah di Natuna.

Retno mengatakan pemerintah akan meningkatkan patroli di perairan Natuna. Menurut dia telah terjadi pelanggaran oleh kapal-kapal Cina di wilayah zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia di perairan Natuna.

Sementara, ujar Retno, wilayah ZEE Indonesia sudah ditetapkan oleh hukum internasional —  berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982. Karena itu Tiongkok merupakan kewajiban Tiongkok untuk menghormati implementasi dari UNCLOS 1982.

Penegasan Retno  kemudian diperkuat oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud yang menyatakan Indonesia harus bersikap tegas terhadap masuknya kapal asing asal China ke wilayah perairan Natuna. Mahfud menyampaikan, tidak ada negosiasi atas kasus tersebut. Sebab menurut dia, wilayah perairan Natuna yang ada di Kepulauan Riau mutlak merupakan wilayah Indonesia. Menteri Pertahanan Prabowo dan Menko Maritim Luhut Panjaitan — tidak mengeluarkan pernyataan keras dan menyatakan semuanya akan diselesaikan dengan sebaik-baiknya.

Sesungguhnya — urusan Laut Natuna sudah selalu menjadi keinginan China untuk memilikinya. Termasuk China harus berperkara dengan negara  lainnya di Mahkamah Internasional. Terakhir kalah dengan Filipina.

Pemerintah China memang sejak dulu mengklaim Sembilan Garis Putus yang berada di tengah laut di Laut China Selatan dan menjorok masuk ke ZEE Natuna Utara. Klaim ini didasarkan pada alasan historis yang secara hukum internasional, utamanya UNCLOS tidak memiliki dasar. Karena itu Putusan Permanent Court of Arbitration pada tahun 2016 dalam sengketa Filipina melawan China — menegaskan posisi itu.

Kita sama mengetahui bahwa perairan sejenis ZEE disebut oleh China sebagai Traditional Fishing Grounds. Dalam UNCLOS konsep yang dikenal adalah Traditional Fishing Rights, bukan Traditional Fishing Grounds, sebagaimana diatur dalam Pasal 51 UNCLOS.

Kemlu China — sudah menanggapi pernyataan Indonesia — dan tetap merasa memiliki hak atas Laut Natuna. Kita berharap tak ada ‘keributan’ luar biasa di Natuna dalam pekan ini. Namun apapun — kita berharap Indonesia bisa menunjukkan kedaulatannya dengan setegak-tegaknya. ***

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...