Infografis

Bencana Merusak di Daerah

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, PAREPARE — Sejumlah daerah terkena bencana. Dominan badai dan angin kencang. Banyak rumah dan kendaraan rusak.

Bencana nyaris serentak terjadi di Maros, Pangkep, Barru, Sidrap, Parepare, Pinrang, Enrekang, dan sejumlah daerah lain.

Di wilayah Ajatappareng, puluhan rumah rusak karena angin puting beliung. Atap melayang, hingga pohon ambruk menimpa rumah dan kendaraan.

Di Parepare, daerah terdampak paling parah di sepanjang pantai. Seperti di Kecamatan Ujung, Soreang, dan Bacukiki Barat. Angin kencang bahkan memporak-porandakan sejumlah kios yang ada di Kecamatan Ujung, atau di sekitar Pasar Senggol.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parepare Rusli mengatakan, dalam waktu 30 menit, 39 pohon ambruk. Rumah terdampak sebanyak 28 unit. “Kita sejauh ini melakukakan pendataan agar lebih lengkap lagi apa saja yang rusak,” ujarnya, malam tadi.

Di Pinrang, sebuah rumah makan di samping Masjid Agung Al Munawir, Jalan Jendral Sudirman, ambruk ditimpa pohon. Angin kencang juga menyebar di sejumlah kecamatan, bahkan ada tiang listrik roboh di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Paleteang dan Lasinrang.

Kepala Area PLN Pinrang, Rizky Ardiana, mengatakan pihaknya sementara memperbaiki tiang listrik ini. Begitupula dengan kabel yang sempat putus. “Listrik perlahan mulai normal. Memang sempat terjadi pemadaman,” bebernya.

Di Barru, 56 rumah rusak tersebar di beberapa titik. Azis, salah seorang warga, mengatakan, angin kencang hanya berlangsung sekejap, namun berdampak luar biasa.

Di Maros, delapan rumah rusak. Di Desa Kurusumange, Kecamatan Tanralili, atap rumah terangkat dan terpental sekitar 200 meter ke tengah jalan. Sempat tersangkut di atas pohon.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Maros, Frans Johan membenarkan kerusakan yang tersebar di tiga kecamatan.

Di Pangkep, puluhan rumah rusak di Kecamatan Liukang Kalmas. Angin kencang menghantam beberapa pulau di kecamatan yang berbatasan dengan Kalimantan Selatan ini.

Kepala Desa Pammas, Kecamatan Liukang Kalmas, Muhammad Basit mengatakan, angin kencang yang menerjang pulaunya itu, mengakibatkan pohon-pohon kelapa tumbang, serta rumah-rumah rusak akibat diterjang angin kencang.

Ombak juga meninggi di perairan Pulau Pammas. Akibatnya tidak ada nelayan yang berani melaut, terlebih lagi, baru-baru terjadi laka laut di sekitar perairan Liukang Kalmas.

“Semua terjebak, tidak ada berani keluar dan masuk ke pulau, tidak ada kapal yang berani melaut, sekarang gelombang sangat tinggi,” tambahnya.

Tunda Melaut

Sementara itu, Petugas Kesyahbandaran Unit Penyelenggara Pelabuhan (UPP) Biringkassi, Capt Kurniawan Agung meminta seluruh nelayan untuk mewaspadai cuaca ekstrem di perairan saat ini, sebab membahayakan kapal-kapal nelayan dan para awaknya.

“Warning cuaca ekstrem, kita tetap mengacu dari BMKG mengenai ketinggian ombak, saat ini ketinggian ombak di perairan mencapai 2-3 meter, ini sebaiknya para nelayan dan pemilik kapal berhati-hati,” ucapnya.

Kasi Keselamatan Berlayar, Penjagaan, Patroli (KBPP) Kesyabandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Parepare, Capt Sahrun A, mengaku sudah mengumumkan terkait hal ini sejak Sabtu, 4 Januari.

Pihaknya meminta kelompok nelayan agar waspada dan menunda dulu untuk sementara waktu melaut sampai cuaca betul-betul membaik. “Sebelumnya sudah diprediksi oleh BMKG akan ada gelombang tinggi (Moderate Sea). Begitupula suhu udara yang cukup dingin yakni 20 – 30 celcius,” bebernya.

Tak hanya itu, yang paling penting, kata Capt Sahrun A, adalah adanya potensi gelombang air laut yang bisa mencapai 1-3 meter. (sua-rus-rin-fit-wis/abg-zuk)

Comment

Loading...