Infografis

Ekonomi Sulsel Segera Pulih

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Tahun ini, ekonomi Sulsel diprediksi membaik. Namun, efek perang dagang perlu diwaspadai.

2019 menjadi tahun ujian bagi Sulsel. Imbas dari terbukanya jendela resesi global. Beruntung, fondasi ekonomi lokal masih cukup tangguh bertahan, hingga Sulsel bisa melaluinya.

Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Sulsel, Bambang Kusmiarso mengatakan prospek pertumbuhan ekonomi Sulsel memasuki awal 2020 diperkirakan memasuki fase pemulihan. Ekonomi Sulsel
diperkirakan mulai lebih akseleratif di tahun 2020.

Khususnya usai beroperasinya beberapa proyek infrastruktur strategis di semester kedua 2019. Bambang menyebutnya sebagai katalis pertumbuhan ekonomi. Di antaranya, jalan tol layang AP Pettarani, Kereta Api Makassar-Parepare, hingga proyek PLTB Sulbagsel.

“Konsistensi kebijakan larangan ekspor mineral mentah diperkirakan akan meningkatkan harga nikel yang jadi andalan Sulsel di tengah ancaman resesi global,” ungkap Bambang akhir pekan lalu.

Investasi-Ekspor

Sehingga, ekonomi Sulsel pada 2020 diperkirakan meningkat karena didorong oleh investasi dan ekspor. Konsumsi rumah tangga yang didukung pola inflasi yang terjaga, akan membantu menjaga daya beli mereka di tengah tantangan ekspor yang masih cukup tinggi.

Selain itu, kebijakan pelonggaran loan to value (LTV) diprediksi memberikan dampak pada pertumbuhan penjualan rumah. Rasio LTV merupakan kemampuan bank dalam memberikan pinjaman kredit kepada nasabah dalam rangka kepemilikan rumah.

“Dari sisi investasi, pertumbuhan diperkirakan juga terakselerasi sejalan dengan tren suku bunga yang lebih rendah serta lebih tingginya foreign direct investment (FDI),” beber Bambang.

Ada pun ekspansi fiskal daerah diperkirakan tetap kuat, namun dalam pertumbuhan yang lebih terbatas. Pada sisi ekspor, ancaman resesi global diperkirakan menjadi hambatan, kecuali nikel yang telah mengamankan kontrak tetap serta unsur kenaikan harga akibat pelarangan ekspor mineral mentah dengan beroperasinya smelter.

“Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi pada 2020 diperkirakan berada pada rentang 7,2-7,6 persen. Ada pun pertumbuhan ekonomi triwulan I 2020 diperkirakan berada pada kisaran 7,1-7,5 persen,” urainya.

Konsumsi cenderung lebih lambat dibandingkan perkiraan akhir triwulan 2019 karena normalisasi permintaan pasca-HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional) Natal dan liburan tahun baru. Demikian halnya kinerja ivestasi diperkirakan lebih moderat di triwulan pertama dengan kinerja sektor eksternal yang relatif stabil dari triwulan sebelumnya dengan tren harga komoditas yang cukup mendukung.

Konsumsi

Sementara itu, di sisi lapangan usaha, kinerja ekonomi pada awal tahun akan bertumpu pada usaha pertanian. Ini beralasan, mengingat triwulan pertama merupakan periode musim panen. Ada pun usaha perdagangan, industri pengolahan, dan konstruksi tumbuh cenderung lebih moderat di awal tahun.

“Beberapa tantangan yang perlu diwaspadai adalah perlambatan ekonomi dunia dan ketegangan perang dagang. Daya tahan dalam negeri yang lemah di tengah ketegangan perang dagang perlu diwaspadai, terutama sektor ekspor yang berpeluang besar untuk terdampak,” jelasnya.

Perlambatan ekonomi dunia terus mengintai sehingga langkah antisipasi melalui pembangunan infrastruktur yang prudensial (bijaksana) menjadi langkah mitigasi yang paling mungkin untuk dilakukan. Termasuk peningkatan produktivitas.

Selain itu, upaya untuk terus mendorong pariwisata perlu dilakukan karena di tengah perang dagang dan gejolak ekonomi global. Apalagi, ada kecederungan pola baru dalam hal berwisata.

“Pola konsumsi rumah tangga baik Indonesia maupun global berubah ke arah leisure (wisata). Potensi pariwisata Sulawesi Selatan yang begitu melimpah ruah menjadi keunggulan kompetitif,” jelas Bambang.

Basis RT

Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi awal 2020 masih akan bertumpu pada konsumsi rumah tangga (RT). Konsumsi RT diperkirakan tumbuh pada rentang 6,4-6,8 persen (yoy) atau cenderung lebih lambat dibandingkan perkiraan akhir triwulan 2019 sebelumnya yang berada pada rentang 6,5-6,9 persen (yoy).

“Lebih moderatnya pertumbuhan pada awal 2020 disebabkan oleh hilangnya faktor pendorong utama pada belanja RT, yaitu Natal dan perayaan tahun baru. Di sisi lain, keyakinan rumah tangga pada ekspektasi jumlah lapangan kerja yang terus menurun berpotensi membuat rumah tangga cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan konsumsi,” paparnya.

Pada sisi belanja pemerintah, realisasi belanja modal dan pegawai relatif stabil dengan triwulan sebelumnya sehingga pertumbuhan belanja pemerintah diperkirakan juga akan mengalami moderasi sebagai dampak base effect. Untuk investasi, pertumbuhan diperkirakan melandai pada rentang 3,3-3,8 persen persen (yoy).

“Bank Indonesia memperkirakan korporasi akan mengevaluasi posisi investasinya dengan melihat konsistensi kebijakan hilirisasi mineral mentah serta permintaan domestik. Bila kondisi sesuai dengan ekspektasi, investasi akan kembali meningkat di triwulan II 2020,” tuturnya.

Di sisi transaksi luar negeri, kinerja ekspor diperkirakan masih stabil seperti triwulan sebelumnya dengan impor yang lebih melandai. Pertumbuhan ekspor diperkirakan berada pada rentang 8,6-9,0 persen (yoy).

Hal ini sejalan dengan perkembangan harga komoditas. Harga komoditas yang masih cenderung stabil diperkirakan mengkompensasi kinerja produksi nikel yang mengalami gangguan.

Harapan Bangkit

Terpisah, Direktur Economic Institute (Center of Political Economics & Business Competition), Bahtiar Maddatuang mengatakan, ada beberapa pertimbangan yang bisa mempengaruhi perekonomian di tahun 2020.

Tahun ini, di Sulsel ada harapan untuk bisa bangkit atau tumbuh secara signifikan dari segi pertumbuhan ekonomi dan bisa memberikan multiple effect terhadap angka kemiskinan dan angka pengangguran.

Pertama, pemerintah harus mendorong agar APBD prorakyat. Maksudnya, agar fenomena serapan 2019 yang tidak maksimal dalam hal membiayai pembiayaan pembangunan di APBD, bisa dimaksimalkan tahun ini.

“Kalau itu bisa dimaksimalkan tentu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Sulsel 2020,” katanya.

Kedua, konsumsi. Sebenarnya kalau ekonomi kita bertumpu pada konsumsi tentu tidak kredibel. Sebab, tidak ada implikasi ke angka kemiskinan dan pengangguran. “Namun, jika pengeluaran di APBD itu implementatif dalam hal serapan yang bagus, konsumsi juga bagus, tentu akan membangkitkan ekonomi,” katanya.

Ketiga, private investment atau investasi swasta. Diharapkan dari situ adalah real investment. Maksudnya, Sulsel butuh investor untuk bangun pabrik dan sebagainya. Artinya, tahun 2020 ini adalah tahun industri.

“Jika umpannya kita pure terhadap industrialisasi pasti implikasinya terhadap perkembangan ekonomi di Sulsel itu akan kredibel atau berkualitas. Artinya sejalan dengan pengurangan tingkat kemiskinan dan pengangguran,” paparnya.

Keempat adalah ekspor impor. Basis dari ekspor harusnya adalah komoditas unggulan. Dengan begitu, bisa mendongkrak pertumbuhan ekonomi.

Bahtiar menuturkan, tantangan sebenarnya berada di tangan pemerintah. Jika pemerintah berkomitmen menjalankan realisasi serapan APBD tinggi tentu tak ada masalah.

Selama ini, yang menyelamatkan ekonomi adalah sektor konsumsi. Makanya, perlu diperluas agar pertumbuhan ekonomi bisa berkualitas. “Tantangannya memang di pemerintah,” katanya

Dia berharap pemerintah sekarang harus mendorong ekonomi kreatif yang base-nya adalah digitalisasi. Pemerintah harus membuatkan road map agar sektor tersebut bisa diberikan karpet merah, karena sangat prospektif

“Bisnis digitalisasi adalah bisnis masa depan. Ini bisa mengatasi ekonomi kita yang tidak maksimal di sektor lain,” tutur Ketua STIE AMKOP itu.

Direct Flight

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel, Hadi Basalamah, menegaskan lewat penguatan ekspor Sulsel akan selalu kebal dari pengaruh global. Tahun ini, Sulsel akan memacu ekspor.

Salah satunya, mulai bulan ini pertama kalinya akan dilakukan ekspor pemerbangan langsung atau direct flight perikanan Makassar-Jeddah. Selama ini, ekspor via direct call telah sukses.

Tahun ini saatnya maju dengan direct flight yang diinisiasi Dinas Perdagangan. Paling lambat pertengahan Januari ini, sudah akan dilakukan menggunakan penerbangan WiseAir.

Menurut Hadi, jika selama ini ekspor menggunakan pesawat komersial atau transit Makassar ke Jeddah, butuh 24 jam, maka dengan direct flight, hanya butuh 8 jam saja. Otomatis, dari segi biaya juga akan lebih menguntungkan bagi para pelaku ekspor. “Karena tentu memangkas biaya cost,” kata Hadi. (*)

Comment

Loading...