Pasutri Tan Tiong Tjing dan Elisa Tewas Tertimpa Pohon 10 Meter

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, SURABAYA– Warning tentang cuaca ekstrem yang disampaikan BMKG benar-benar terjadi. Kemarin (6/1) hujan dan angin kencang menerjang sejumlah daerah di Jawa Timur. Bahkan, di Surabaya, dua pengendara motor tewas tertimpa pohon yang ambruk karena dihempas angin.

Peristiwa nahas itu terjadi pukul 16.30 WIB kemarin. Saat itu pasangan suami-istri (pasutri) Tan Tiong Tjing dan Elisa melaju dari barat di Jalan Johar, Surabaya. Menurut beberapa saksi, pria 49 tahun tersebut tertimpa pohon cemara setinggi 10 meter. Dia terjepit di antara batang pohon dan kendaraan. Sementara itu, Elisa terpelanting ke jalan. Saking kerasnya, helm yang dikenakannya terlepas. ”Suara benturannya keras. Apalagi, di depan motor itu ada satu pikap,” ungkap Gunadi, saksi mata, kepada Jawa Pos kemarin.

Upaya menolong Tan Tiong Tjing sangat sulit. Sebab, pohon cemara tersebut juga menimpa pikap. Petugas akhirnya datang, kemudian memotong pohon itu dengan gergaji mesin. Tubuh pria malang itu pun bisa dievakuasi. ”Pohonnya didorong enggak bisa. Apalagi digeser ke kanan dan kiri. Harus dengan alat khusus,” tutur pria asal Kalimantan tersebut.

Kedua korban dibawa petugas ke RSUD dr Soetomo. Berdasar pantauan Jawa Pos, cemara itu juga menimpa sebuah warung. Untung, tidak ada korban. Pohon tersebut juga membuat satu tiang saluran telepon patah.

Muhammad Sidi, anggota Trenggana (Relawan Siaga Bencana) Pol PP Jawa Timur, mengatakan bahwa usia cemara yang roboh itu sudah lebih dari 30 tahun. ”Pohon itu sudah lama. Akarnya juga tidak kuat, ditambah lagi hujan dan angin kencang. Memang sudah waktunya dipotong,” jelasnya kemarin.

Sementara itu, keluarga korban tiba di RSUD dr Soetomo sejak sore. ”Kami langsung meluncur ke kamar mayat. Melihat kondisi kedua keluarga kami,” ujar Budi Hermanto, adik ipar Tan Tiong Tjing.

Budi menjelaskan, tidak ada firasat apa pun sebelum peristiwa terjadi. ”Sepengetahuan saya, Elisa dijemput Tan. Saat itu belum hujan. Pas pulang, ternyata angin sangat kencang,” katanya.

Hingga tadi malam, pukul 19.00, pihak keluarga terus berdatangan. Budi menjelaskan, kedua jenazah dibawa ke Yayasan Pemakaman Adi Jasa, Surabaya, untuk disemayamkan. ”Kemungkinan dikremasi. Tapi, kami menunggu kepastian dulu dari keluarga besar,” tambah Tan Bok Mee, adik Tan Tiong Tjing. Bok Mee terlihat sangat sedih. Air matanya terus menetes. Pasutri tersebut meninggalkan dua anak. Yakni, Virginia Claudia dan Felixiano. Virginia berstatus mahasiswi dan Felix masih SMP.

Sementara itu, BMKG Surabaya memprediksi angin kencang dan hujan masih akan terjadi beberapa hari ke depan. Di beberapa wilayah, cuaca ekstrem juga berpotensi memicu banjir rob.

Kasi Data dan Informasi BMKG Kelas I Juanda Teguh Tri Susanto mengatakan, cuaca ekstrem di Jatim disebabkan pola tekanan rendah di Samudra Hindia Selatan wilayah Nusa Tenggara. Hal itu menyebabkan terbentuknya pola pertemuan angin di sepanjang Jatim. Selain pola tekanan rendah, saat ini Jatim memasuki puncak musim hujan (Januari–Februari). ”Hari hujan semakin banyak. Durasi hujan juga akan lama,” terangnya.

BMKG memprediksi, cuaca ekstrem di Jatim berlangsung pada 6–12 Januari. (jpc/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...