Awalnya Iseng, Mahasiswa Ini Sukses Kembangkan Usaha Racikan Minuman

0 Komentar

Linggi (kiri) bersama rekannya saat berada di usaha minuman Dimensi Drink miliknya.

Kreativitas dapat muncul dari mana saja, termasuk dari pengalaman pribadi. Dari Hobi meracik minuman, kini membuat Linggi bisa membiayai kuliahnya.

DEWI SARTIKA MAHMUD
Jl Perintis Kemerdekaan

Semua alat dan bahan telah disiapkan. Sebuah wadah minuman di atas meja sebuah gerobak berwarna coklat tersusun rapi.

Ditambah beberapa toples bertuliskan Greentea, Thaitea, Cappucino dan sebagainya juga berjejer di sana. Nama-nama tersebut merupakan variasi rasa minuman yang dijual Linggi, sapaannya.

Per gelasnya dijual bervariasi, mulai dari Rp7000 hingga Rp15.000. Soal rasa, jangan ditanya. Tak kalah dengan olahan minuman yang dijual di cafe.

Laki-laki yang bernama lengkap Maswanto Layuk Linggi ini memulai bisnis minumannya sejak tahun lalu, saat memasuki bulan ramadan. Berawal dari ia pernah membeli minuman di satu stand.

Kala itu ia melihat minumannya laris dan banyak pembeli. Maka keisengan bersama teman-temannya meracik minuman untuk dijual saat berbuka puasa.

Minuman yang dibuatnya setiap hari laris karena rasanya yang menurut pembeli digemari. Sampai-sampai ada yang memesan banyak. Berkat hal tersebut, kemudian teman-temannya menyarankan membuat usaha.

Dengan modal nekat, mahasiswa semester VIII Universitas Fajar Makassar jurusan Management tersebut meminjam modal kepada rekannya sebesar Rp4 juta. Alhasil, ia berhasil membuat usaha minuman yang diberi nama Dimensi Drink.

“Sebenarnya usaha pertama yang saya buat itu minuman dan es kepal milo, kan dulu es kepal hits cuman buming sementara jadi seiring berjalannya waktu saya pindahmi ke jualan minuman,”tuturnya.

Berjualan minuman Linggi lakukan ketika pulang kuliah. Ataupun ia menyesuaikan waktu dengan teman satu kampungnya yang berasal dari Nosu, Mamasa.

Kini, Linggi menempatkan standnya di tiga tempat yakni di Jl Perintis Kemerdekaan 4 dekat STIMIK Dipanegara, Jl Perintis Kemerdekaan 8 dekat kampus STIKES Nani, di Jl Bung dekat Akademi Keperawatan Sandi Karsa, dan kampus Unhas. Ia juga mempekerjakan teman-temannya, sebagai tambahan uang jajan untuk mereka.

“Sekarang saya sudah bisa bayar kuliah sendiri dan bantu teman-teman juga untuk dapat tambahan uang jajan,” ucapnya.

Perjalanannya merintis bisnis kecil-kecilan tak sukses begitu saja, harus jatuh bangun. Banyak hal yang harus dilalui Linggi. Dari tak ada pembeli sama sekali, dan kadang karena masih pakai gerobak sehingga jika hujan jualannya terkena percikan hujan sedikit.

Bukan cuma itu, kadang pendidikan Linggi pun harus keteteran dikarenakan bisnis yang ia tekuni. Ia merasa kadang sulit membagi waktu belajar dan menerima pesanan, apalagi jika ada pesanan mendadak. Namanya rezeki, sulit untuk ditolak.

Meski demikian, ia bersyukur karena setidaknya kini ia tak minta uang lagi untuk kuliah kepada orangtuanya.

Bagi Linggi, mahasiswa itu harus mandiri. Kalau perlu, tak boleh meminta uang jajan dari orang tua. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...