Megathrust dan Literasi Kebencanaan

0 Komentar

Sepanjang hari ini, sy menerima banyak pesan, baik di WA maupun di beberapa media sosial lainnya. Rupanya, berita tentang keberadaan megathrust di Pulau Sulawesi yang diliput tahun lalu setelah terjadinya gempa Palu dan Pangandaran sekarang beredar dan membuat keresahan (Gambar di atas).

Banyak yang bertanya apakah berita tersebut berarti megathrust atau gempa besar akan terjadi di Sulawesi Selatan dan Kota Makassar.

Berikut informasi yang ingin saya sampaikan untuk memberikan sedikit pemahaman tentang konteks pemberitaan tersebut.

Megathrust atau gempa besar di Pulau Sulawesi terletak di bagian utara, seperti pada gambar di bawah.

Megathrust ini dibentuk oleh adanya subduksi atau tunjaman dari lempeng Laut Sulawesi ke bagian utara Sulawesi dan membentuk jalur subduksi melintang dari barat-timur (Lihat peta di atas).

Zona subduksi inilah yang berpotensi untuk menghasilkan megathrust atau gempa besar dengan skala mencapai 8 SR.

Karena zona tunjaman ini terdapat di laut, ketika bergerak dan menimbulkan gempa kemungkinan besar akan menghasilkan tsunami yang besar, dan bisa mencapai ketinggian lebih dari 10 meter.

Gempa besar tercatat telah terjadi beberapa kali di daerah ini, di antaranya tahun 1996 di mana terjadi gempa dan tsunami di daerah Tanggolobibi (dekat Toli-toli) dan sekitarnya. Jika kita melihat perulangannya, gempa di daerah ini mempunyai periode ulang sekitar 30 tahun.

Artinya, gempa bisa terjadi, bisa juga tidak, bisa tepat 30 tahun, bisa 32, 35, atau 40 tahun.

Tidak ada yang bisa memprediksi kapan terjadinya dengan tepat. Tetapi bahwa di situ ada zona subduksi yang aktif dan menghasilkan gempa besar itu pasti, karena data-data geologi dan geofisika telah membuktikannya.

Data-data ini harus dijadikan sebagai bahan untuk kemudian membuat sistem mitigasi gempa dan tsunami di daerah ini.

Ada pun pertanyaan bagaimana dengan Sulawesi Selatan dan Kota Makassar? Jika dilihat di peta, jarak antara zona subduksi dengan daerah Sulsel paling utara (Pinrang dan Parepare) sekitar lebih dari 700 km. Jarak ke Kota Makassar lebih jauh lagi, yaitu sekitar 1000 km.

Tentu saja efek jika terjadi megathrust ini secara langsung akan sangat kecil untuk sampai di Sulawesi Selatan, terutama Makassar. Namun, megathrust ini bisa saja menyebabkan aktifnya beberapa patahan-patahan yang ada di Pulau Sulawesi, seperti Palu-Koro, Saddang, Walanae, dan Matano dengan skala yang tentu saja bervariasi, tergantung dari besar energi yang tersimpan di masing-masing patahan tersebut dan kondisi geodinamika-nya.

Semoga penjelasan singkat ini bisa memberikan sedikit informasi untuk kita semua. Literasi tentang kebencanaan memang harus terus ditingkatkan, agar masyarakat semakin tangguh dalam menghadapinya, termasuk bisa mencerna informasi-informasi yang beredar.

Wallahu a’lam… (*)

Ditulis oleh Dr.Eng. Adi Maulana, ST.M.Phil.
(Kepala Pusat Studi Bencana Universitas Hasanuddin)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...