Tangani Pak Ogah, Dishub Makassar Ingin Kolaborasi Provinsi

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Dinas Perhubungan (Dishub) Makassar mulai serius menangani Pak Ogah. Mengerahkan personel untuk berjaga di setiap bukaan mulai dikaji.

Selama ini, pengatur jalan ilegal yang sering disebut Pak Ogah menjadi penguasa jalan. Mereka mengatur kendaraan yang memberinya tip di sejumlah bukaan. Kendaraan dari jalur prioritas disetop tanpa melihat dampak kemacetan yang ditimbulkan.

Pak Ogah menjadi momok yang selama ini sulit dihilangkan. Mereka menjadikan jalanan sebagai ladang meraup keuntungan. Tetapi, keberadaannya tak diterima masyarakat.

Pantauan FAJAR di sejumlah jalan protokol, Pak Ogah masih leluasa mengatur jalan di setiap putaran atau u-turn. Aktivitas itu dilakukan mulai pagi, bahkan menjelang tengah malam.

Kepala Dishub Kota Makassar, Mario Said menyadari Pak Ogah sangatlah meresahkan pengguna jalan. Apalagi, saat mengatur lalu lintas, Pak Ogah selalu mengutamakan pengendara yang akan berputar. Akhirnya menyebabkan kemacetan.

Makanya, kondisi ini menjadi salah satu atensi Dishub Makassar. Mario menyebut perlu ada kajian mendalam untuk mencari solusi tepat menangani maraknya Pak Ogah di jalan.

“Usulan dewan yang bilang personel dishub menggantikan peran Pak Ogah itu sebenarnya bagus juga. Cuma perlu dimatangkan segala sesuatunya. Pasti ada beberapa pertimbangan lain,” ujarnya, kemarin.

Dia meminta untuk penanganan Pak Ogah perlu kerja sama berbagai pihak. Sebab, kata dia, jika hanya berharap pada satu instansi, penanganan ini akan sulit dilakukan.

“Ini perlu ada kolaborasi dengan provinsi. Kalau ada shift-shift itu menarik. Misalnya anggota saya dan provinsi ditentukan jam-jam mereka turun. Jadi bergantian,” bebernya.

Mario mengaku akan membahas persoalan ini bersama Dishub Sulsel. “Kepala dinasnya kan baru dilantik. Jadi kita akan membahas kembali mengenai Pak Ogah ini. Siapa tahu ada solusi baru,” imbuhnya.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah meminta Pemkot Makassar segera menuntaskan persoalan kemacetan di Makassar. Harus ada kajian-kajian spesifik penyebab kemacetan dan dicarikan solusinya.

“Kita harus ada kajian karena saya lihat Pak Ogah ini menjadi salah satu biang kemacetan,” bebernya.

Kata Nurdin, Pak Ogah kerap kali beroperasi di persimpangan atau di putaran (u-turn jalan). Padahal tidak punya ilmu khusus untuk mengatur lalu lintas. Hanya muncul karena mengharap imbalan pengendara.

“Menunggu orang kasi keluar tangan memberi dia (uang). Tidak peduli atau tidak pusing orang berkendara berhenti atau tidak. Ini semua yang harus dituntaskan cepat,” tukasnya. (ism-fik/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...