Raja dan Kanjeng Ratu Ditahan, Ini Alasan Keraton Agung Sejagat Muncul

KIRAB. Keraton Agung Sejagat (KAS) melakukan prosesi Wilujengan dan Kirab Budaya di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo (Magelang Expres)

FAJAR.CO.ID, PURWOREJO – Polda Jateng bergerak cepat menyikapi munculnya Keraton Agung Sejagat di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo.

Keraton Agung Sejagat dipimpin oleh seseorang yang dipanggil Sinuwun yang bernama asli Totok Santosa Hadiningrat dan istrinya yang dipanggil Kanjeng Ratu.

Nah, Selasa (14/1) malam, Polda Jawa Tengah menahan Raja dan Permaisuri Keraton Agung Sejagat, yakni Totok Santosa dan Fanni Aminadia.

Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah, Kombes Iskandar F Sutisna, di Semarang, Selasa, membenarkan penahanan itu. “Malam ini ditahan dan akan dibawa ke Polda Jawa Tengah,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, penangkapan itu didasarkan atas keresahan masyarakat akibat kehadiran keraton di Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Kabupaten Purworejo itu.

Santosa dan Aminadia dijerat UU Nomor 1/1946 tentang Peraturan Hukum Pidana serta pasal 378 KuHP tentang penipuan. Sejumlah barang bukti disita, termasuk dokumen yang diduga dipalsukan pelaku.

Keraton Agung Sejagat ini mulai dikenal publik, setelah mereka mengadakan Wilujengan dan Kirab Budaya, yang dilaksanakan dari Jumat (10/1) hingga Minggu (12/1).

Berdasarkan informasi, pengikut dari Keraton Agung Sejagat ini mencapai sekitar 450 orang.

“Penasihat” Keraton Agung Sejagat, Resi Joyodiningrat, menegaskan Keraton Agung Sejagat bukan aliran sesat seperti yang dikhawatirkan masyarakat.

Menurutnya, Keraton Agung Sejagat merupakan kerajaan atau kekaisaran dunia yang muncul karena telah berakhir “perjanjian 500 tahun” yang lalu, terhitung sejak hilangnya Kemaharajaan Nusantara, yaitu imperium Majapahit pada 1518 sampai 2018.

Disebutkan, “perjanjian 500 tahun” dilakukan Dyah Ranawijaya sebagai penguasa imperium Majapahit dengan Portugis sebagai wakil orang Barat, sehingga wilayah itu merupakan bekas koloni Kekaisaran Romawi di Malaka pada 1518

Jodiningrat menyampaikan dengan berakhirnya “perjanjian” itu, maka berakhir pula dominasi kekuasaan Barat mengendalikan dunia yang didominasi Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, dan kekuasaan tertinggi harus dikembalikan ke “pemilik”-nya, yaitu Keraton Agung Sejagat sebagai penerus Medang Majapahit yang merupakan Dinasti Sanjaya dan Dinasti Syailendra. (ant/jpnn/fajar)

KONTEN BERSPONSOR

Komentar

Saksikan video berikut: