Serangan Rudal Iran, Tentara AS: Itu Merupakan Adrenaline Rush Terburuk Sepanjang Hidup

Serangan Rudal Iran, Tentara AS: Itu Merupakan Adrenaline Rush Terburuk Sepanjang Hidup

FAJAR.CO.ID, BAGHDAD– Radio militer milik kelompok Akeem Ferguson berbunyi Rabu (8/1) dini hari. Pesan yang ditransmisikan sangat mengerikan. Enam rudal balistik sedang meluncur ke arah markas mereka.

”Saya langsung memegang erat senjata dan menundukkan kepala. Yang teringat adalah putri saya dan saya pun menyanyi,” kata sersan bertinggi 180 sentimeter tersebut kepada CNN.

Saat itu Ferguson sudah berada di bungker Al Assad. Sebelum hari berganti, mereka sudah mendapatkan perintah dari pusat komando untuk berlindung.

Pukul 23.00 Selasa (7/1) sebagian besar personel sudah dievakuasi ke bungker. Beberapa personel bahkan sudah diterbangkan ke lokasi lain. Hanya pilot drone dan penjaga menara yang tetap di pos mereka untuk mengantisipasi serangan darat.

Namun, tentara yang sedang berlindung pun tak merasa aman. ”Saya sudah 100 persen siap mati. Saya hanya berharap apa pun yang terjadi bakal berjalan cepat,” ungkap Ferguson.

Tentu saja benteng tersebut terlihat kukuh dan bisa menahan serangan roket serta mortar. Masalahnya, bangunan dengan beton supertebal itu didirikan di era Saddam Hussein. Tak ada jaminan bahwa benteng pertahanan tersebut akan kuat saat digempur bom seberat setengah ton dari udara.

Tentara di markas Al Assad juga tak mempunyai rudal pencegat serangan udara. Tanpa itu, personel militer di pangkalan udara barat Iraq tersebut hanya bisa mengandalkan bangunan dua lapis yang dibangun pada era 1980-an. ”Saya sudah duduk di bungker selama 1,5 jam. Dan saya pikir mungkin saya membuat keputusan salah (untuk berlindung di sini, Red),” ujar Letkol Staci Coleman.

Komentar

Loading...