Sikap Tegas ACT dan Dewan Masjid Bela Natuna

0 Komentar

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Kawasan Natuna tengah menjadi buah bibir setelah kapal Tiogngkok, menangkap ikan secara ilegal di perairan tersebut.

Peristiwa ini meningkatkan tensi hubungan Indonesia dan Tiongkok, sebab tiap negara saling klaim dasar hukum laut Natuna yang juga berbatasan dengan Laut China Selatan.

Berdasarkan kondisi tersebut, Aksi Cepat Tanggap (ACT) menyatakan sikap dalam sebuah “Aksi Bela Indonesia, Natuna Memanggil”. Aksi ini dinyatakan sebagai bentuk konkret patriotisme dan nasionalisme.

Regional Head ACT Indonesia Timur, Syahrul Mubaraq mengatakan sebagai anak bangsa yang mencintai negara ini, sudah sepatutnya masyarakat Indonesia menunjukkan sikapnya. Kondisi ini merupakan momentum terbaik untuk memupuk persatuan di antara bangsa.

“Tidak boleh lagi negeri ini terjajah oleh negara lain. ACT adalah anak bangsa, maka kami berperan dan harus membantu melalui program-program kami untuk membawa semangat patriotisme ke semua elemen bangsa,” tuturnya.

Syahrul menambahkan, selain aksi pernyataan sikap, melalui program “Aksi Bela Indonesia” ACT juga akan mengirimkan bantuan sebesar 1.000 ton logistik kepada semua masyarakat dan pihak TNI beserta aparat yang bertugas di Natuna.

Program bantuan yang dikirimkan ke masyarakat Natuna dan aparat yang membutuhkan menjadi spirit besar untuk mengurangi segala perselisihan yang ada.

“Spirit kami ini pula akan menjadikan seluruh relawan yang terlibat untuk siap menjadi pasukan bela negara, kami memiliki lebih dari 400 ribu relawan yang tersebar di berbagai daerah,” tuturnya.

Sekretaris Umum Dewan Masjid Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan, Hasid Hasan Palogai mengatakan menyikapi situasi yang ada, ia mengajak semua elemen bangsa untuk bergerak bersama-sama. Selama seminggu ini timnya sudah berada di Natuna. Ini merupakan agenda tindak lanjut.

Sebelum ada masalah ini, kata dia, mereka sudah mengerahkan masyarakat nelayan dan aparat-aparat yang menjadi penjaga utama di daerah sana.

” Kita ingin memastikan semua elemen bangsa menunjukkan wibawa negara kita baik dari bantuan dana, tulisan-tulisan, tenaga, dan lainnya.” ajaknya.

Seperti yang diketahui, telah terjadi pelanggaran kapal-kapal Cina di wilayah Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia. Laut Natuna selama puluhan tahun masuk wilayah Indonesia yang ditetapkan oleh United Nations Convention for the Law of the Sea (UNCLOS) pada 1982.

Situasi di perairan Natuna memanas akibat kapal-kapal China berlayar di wilayah tersebut. Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah melayangkan nota protes, namun China mengklaim kawasan itu masih termasuk kawasan jalur nelayan tradisionalnya sejak dulu. (wis/fajar)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...