Pengangkut Sampah dengan Pengontrol Mikro, Lebih Efisien Dibanding Alat Berat

0 Komentar

PENGANGKUT SAMPAH.Mahsiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar,Muh Dzul saat memperlihatkan Alat pengangkut Sampah di saksikan dengan Dosen pembimbing dan Staf lainnya di kampusnya Jalan Perintis kemerdekaan. NURHADI/FAJAR

Alat dan konsepnya cukup simpel. Akan tetapi, efisien mengangkut sampah. Biaya pembuatannya juga lebih murah.

Laporan: EDWARD AS

FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Perkembangan dunia teknologi tidak hanya seputar gawai saja. Juga menyentuh teknologi praktis dan tepat guna, seperti teknologi pengangkutan sampah.

Salah satu contohnya, teknologi yang dikembangkan oleh dua mahasiswa Jurusan Teknik Informatika Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar, Rohandi dan Muh Dzul Jalali Syam Ahdyat.

Kedua mahasiswa ini membuat prototipe alat pengangkutan sampah di perairan berbasis pengontrol mikro. Alat ini mengusung konsep pengangkutan sampah secara otomatis dengan gabungan beberapa alat. Penggeraknya beberapa mesin.

Dua jaring ditempatkan pada bagian depan alat yang bersentuhan dengan aliran sungai. Jaring pertama digunakan sebagai penutup ketika jaring pertama sedang mengangkat sampah.

Setelah jaring kedua kembali pada posisi semula, jaring pertama secara otomatis terangkat. Tujuannya agar sampah kembali tertampung di jaring kedua.

Sampah yang terangkat oleh jaring kedua akan ditempatkan pada rel yang berjalan dan langsung dihubungkan dengan bak penampungan.

Ide awal dari penelitian ini adalah banyak sampah yang menumpuk di sungai atau di kanal. Dzul bersama temannya, Rohadi, kemudian mencari konsep untuk mengangkut sampah tanpa menggunakan banyak tenaga manusia. “Hasilnya bagus,” kata Muh Dzul Jalali Syam Ahdyat, Selasa 14 Januari.

Dzul menjelaskan alat pengangkut sampah yang ia ciptakan bisa diaplikasikan di lapangan. Hanya butuh penambahan ukuran dan motor penggerak yang lebih besar.

Konsep pengangkutan sampah dengan alat pengontrol mikro ini telah banyak dikembangkan di negara maju, bahkan menjadi skala utama.

Pengangkutan sampah secara berkala akan membuat penanganan sampah lebih mudah dan tidak menyebabkan penumpukan. Hal tersebut juga bisa mengurangi potensi banjir, akibat aliran air di kanal atau drainase tidak lancar.

“Ide ini kelihatan simpel, tetapi sudah saatnya pengolahan sampah di sungai atau kanal dilakukan dengan sentuhan teknologi. Cara ini lebih efesien,” ujar pria kelahiran Ujung Pandang 7 April 1997 ini.

Nur Alamsyah, pembimbing penelitian Dzul menjelaskan, penelitian yang dilakukan anak bimbingan tersebut merupakan aplikasi dari revolusi industri 4.0. Dari ide kecil bisa memberikan manfaat yang sangat besar.

Terlebih lagi konsep dasar masih bisa terus dikembangkan kearah yang lebih baik. Salah satunya adalah penambahan beberapa sensor yang bisa dipasangkan pada alat microcontroller tersebut.

“Yang ini masih sensor waktu yang kita pakai, nanti bisa sensor beban. Tujuannya agar alat beroperasi dengan efisien, jika ada beban,” ungkapnya.

Alamsyah menambahkan, konsep alat pengangkutan sampah yang ditawarkan oleh mahasiswa tersebut sangat murah dibanding alat yang dikembangkan di luar negeri.

Jika dikembangkan untuk skala lapangan, kata dia, alat pengangkut sampah microcontroller tersebut hanya butuh ratusan juta. Alat yang dibuat di luar negeri harganya miliaran rupiah.

“Kami di dunia pendidikan hanya bisa memberi sumbangsih ide kepada stakeholder lain. Kami juga siap membantu pemerintah atau instansi lain jika dibutuhkan untuk mengembangkan dunia teknologi,” tambahnya. (*)

Tulisan ini berasal dari redaksi Fajar.CO.ID

Comment

Loading...